Surat Ali Imran Full: Arab, Latin serta Terjemahannya

Jakarta – Surat Ali Imran merupakan surat ketiga pada Al-Qur’an. Surat ini diturunkan setelahnya Surat Al-Anfal.
Surat Ali Imran diwahyukan pada tahun 9 Hijriyah dalam Pusat Kota Madinah, sehingga salah satunya pada golongan Surat Madaniyyah. Nama “Ali Imran” berarti “Keluarga Imran,” juga surat ini dinamakan demikian akibat memuat kisah tentang Keluarga Imran, yaitu ayah dari Maryam.
Surat Ali Imran terdiri dari 200 ayat dan juga dikenal dengan sebutan Az-Zahraawani (dua yang tersebut cemerlang) dengan dengan Surat Al-Baqarah. Keduanya disebut demikian dikarenakan mengungkap hal-hal yang tersebut disembunyikan oleh ahli kitab, seperti kelahiran Nabi Isa Negeri Paman Sam lalu kedatangan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, dan juga lainnya.
Mengutip dari quran.nu.or.id, berikut Surat Ali ‘Imran full latin, arti kemudian terjemahannya
الۤمّۤ ١
alif lâm mîm
Alif Lām Mīm.
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ ٢
allâhu lâ ilâha illâ huwal-ḫayyul-qayyûm
Allah, tidak ada ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya) secara terus-menerus.
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَنْزَلَ التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۙ ٣
nazzala ‘alaikal-kitâba bil-ḫaqqi mushaddiqal limâ baina yadaihi wa anzalat-taurâta wal-injîl
Dia menurunkan kepadamu (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) dengan hak, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, juga sudah menurunkan Taurat kemudian Injil
مِنْ قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَاَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ەۗ اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍۗ ٤
ming qablu hudal lin-nâsi wa anzalal-furqân, innalladzîna kafarû bi’âyâtillâhi lahum ‘adzâbun syadîd, wallâhu ‘azîzun dzuntiqâm
Sebelum (turunnya Al-Qur’an) sebagai petunjuk bagi manusia, serta menurunkan Al-Furqān (pembeda yang mana hak juga yang batil). Sesungguhnya orang-orang yang tersebut kufur terhadap ayat-ayat Allah, bagi merekan azab yang tersebut sangat keras. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa).
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ ٥
innallâha lâ yakhfâ ‘alaihi syai’un fil-ardli wa lâ fis-samâ’
Sesungguhnya bagi Allah tiada ada sesuatu pun yang digunakan tersembunyi pada bumi juga tidaklah pula di langit.
هُوَ الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاۤءُۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ٦
huwalladzî yushawwirukum fil-ar-ḫâmi kaifa yasyâ’, lâ ilâha illâ huwal-‘azîzul-ḫakîm
Dialah (Allah) yang digunakan membentuk kamu di rahim sebagaimana yang mana Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُۘ وَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَاۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ ٧
huwalladzî anzala ‘alaikal-kitâba min-hu âyâtum muḫkamâtun hunna ummul-kitâbi wa ukharu mutasyâbihât, fa ammalladzîna fî qulûbihim zaighun fayattabi’ûna mâ tasyâbaha min-hubtighâ’al-fitnati wabtighâ’a ta’wîlih, wa mâ ya’lamu ta’wîlahû illallâh, war-râsikhûna fil-‘ilmi yaqûlûna âmannâ bihî kullum min ‘indi rabbinâ, wa mâ yadzdzakkaru illâ ulul-albâb
Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang dimaksud muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) serta yang dimaksud lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang tersebut di hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, merek mengikuti ayat-ayat yang mana mutasyabihat untuk menyebabkan fitnah (kekacauan lalu keraguan) lalu untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tak ada yang tersebut mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang tersebut dapat mengambil pelajaran, kecuali ululalbab.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ ٨
rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba’da idz hadaitanâ wa hab lanâ mil ladungka raḫmah, innaka antal-wahhâb(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelahnya Engkau berikan petunjuk untuk kami dan juga anugerahkanlah terhadap kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.
رَبَّنَآ اِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيْعَادَࣖ ٩
rabbanâ innaka jâmi’un-nâsi liyaumil lâ raiba fîh, innallâha lâ yukhliful-mî’âdWahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah yang digunakan mengoleksi manusia pada hari yang tersebut tak ada keraguan padanya.” Sesungguhnya Allah tidak ada menyalahi janji.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ وَقُوْدُ النَّارِۗ ١٠
innalladzîna kafarû lan tughniya ‘an-hum amwâluhum wa lâ aulâduhum minallâhi syai’â, wa ulâ’ika hum waqûdun-nârSesungguhnya orang-orang yang mana kufur, tiada akan berguna bagi dia sedikit pun harta benda lalu anak-anak dia (untuk menyelamatkan diri) dari (azab) Allah. Mereka itulah materi bakar api neraka.
كَدَأْبِ اٰلِ فِرْعَوْنَۙ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاَخَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْۗ وَاللّٰهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ١١
kada’bi âli fir’auna walladzîna ming qablihim, kadzdzabû bi’âyâtinâ, fa akhadzahumullâhu bidzunûbihim, wallâhu syadîdul-‘iqâb
(Keadaan mereka) seperti keadaan pengikut Fir’aun juga orang-orang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Kami. Oleh sebab itu, Allah menyiksa mereka akibat dosa-dosanya. Allah sangat keras hukuman-Nya.
قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَتُغْلَبُوْنَ وَتُحْشَرُوْنَ اِلٰى جَهَنَّمَۗ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ١٢
qul lilladzîna kafarû satughlabûna wa tuḫsyarûna ilâ jahannam, wa bi’sal-mihâd
Katakanlah (Nabi Muhammad) terhadap orang-orang yang kufur, “Kamu (pasti) akan dikalahkan serta digiring ke pada (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.”
قَدْ كَانَ لَكُمْ اٰيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِ الْتَقَتَاۗ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَاُخْرٰى كَافِرَةٌ يَّرَوْنَهُمْ مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِۗ وَاللّٰهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ ١٣
qad kâna lakum âyatun fî fi’atainiltaqatâ, fi’atun tuqâtilu fî sabîlillâhi wa ukhrâ kâfiratuy yaraunahum mitslaihim ra’yal-‘aîn, wallâhu yu’ayyidu binashrihî may yasyâ’, inna fî dzâlika la’ibratal li’ulil-abshâr
Sungguh, sudah pernah ada tanda (bukti) bagimu pada dua golongan yang mana bertemu (dalam pertempuran. Satu golongan berperang dalam jalan Allah juga (golongan) yang mana lain kafir yang tersebut meninjau dengan mata kepala bahwa merekan (golongan muslim) dua kali lipat jumlahnya. Allah menguatkan siapa yang tersebut Dia kehendaki dengan pertolongan-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang digunakan mempunyai penglihatan (mata hati).
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ ١٤
zuyyina lin-nâsi ḫubbusy-syahawâti minan-nisâ’i wal-banîna wal-qanathîril-muqantharati minadz-dzahabi wal-fidldlati wal-khailil-musawwamati wal-an’âmi wal-ḫarts, dzâlika matâ’ul-ḫayâtid-dun-yâ, wallâhu ‘indahû ḫusnul-ma’âb
Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang tersebut sebagai perempuan, anak-anak, harta benda yang digunakan bertimbun tak terhingga merupakan emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, serta sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dalam bumi lalu di dalam sisi Allahlah tempat kembali yang baik.
۞ قُلْ اَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّنْ ذٰلِكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِۚ ١٥
qul a unabbi’ukum bikhairim min dzâlikum, lilladzînattaqau ‘inda rabbihim jannâtun tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ wa azwâjum muthahharatuw wa ridlwânum minallâh, wallâhu bashîrum bil-‘ibâd
Katakanlah, “Maukah aku beri tahukan kepadamu sesuatu yang lebih lanjut baik daripada yang mana demikian itu?” Untuk orang-orang yang digunakan bertakwa, dalam sisi Tuhan dia ada surga-surga yang mengalir dalam bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal ke dalamnya kemudian (untuk mereka) pasangan yang mana disucikan juga rida Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
اَلَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اِنَّنَآ اٰمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِۚ ١٦
alladzîna yaqûlûna rabbanâ innanâ âmannâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa qinâ ‘adzâban-nâr
(Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami benar-benar telah dilakukan beriman. Maka, ampunilah dosa-dosa kami kemudian selamatkanlah kami dari azab neraka.”
اَلصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْمُنْفِقِيْنَ وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ ١٧
ash-shâbirîna wash-shâdiqîna wal-qânitîna wal-munfiqîna wal-mustaghfirîna bil-as-ḫâr
(Juga) orang-orang yang digunakan sabar, benar, taat, lalu berinfak, juga memohon ampunan pada akhir malam.
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًا ۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ١٨
syahidallâhu annahû lâ ilâha illâ huwa wal-malâ’ikatu wa ulul-‘ilmi qâ’imam bil-qisth, lâ ilâha illâ huwal-‘azîzul-ḫakîm
Allah menyatakan bahwa tak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang mana menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat juga khalayak berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ١٩innad-dîna ‘indallâhil-islâm, wa makhtalafalladzîna ûtul-kitâba illâ mim ba’di mâ jâ’ahumul-‘ilmu baghyam bainahum, wa may yakfur bi’âyâtillâhi fa innallâha sarî’ul-ḫisâb
Sesungguhnya agama (yang diridai) pada sisi Allah ialah Islam. Orang-orang yang tersebut sudah pernah diberi kitab tiada berselisih, kecuali pasca datang pengetahuan untuk merekan sebab kedengkian di antara mereka. Siapa yang digunakan kufur terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan(-Nya).
فَاِنْ حَاۤجُّوْكَ فَقُلْ اَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلّٰهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِۗ وَقُلْ لِّلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْاُمِّيّٖنَ ءَاَسْلَمْتُمْۗ فَاِنْ اَسْلَمُوْا فَقَدِ اهْتَدَوْاۚ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِࣖ ٢٠
fa in ḫâjjûka fa qul aslamtu waj-hiya lillâhi wa manittaba’an, wa qul lilladzîna ûtul-kitâba wal-ummiyyîna a aslamtum, fa in aslamû fa qadihtadau, wa in tawallau fa innamâ ‘alaikal-balâgh, wallâhu bashîrum bil-‘ibâd
Jika mereka itu mendebat engkau (Nabi Muhammad) katakanlah, “Aku berserah diri terhadap Allah kemudian (demikian pula) orang-orang yang digunakan mengikutiku.” Katakanlah terhadap orang-orang (Yahudi serta Nasrani) yang dimaksud sudah diberi Kitab (Taurat lalu Injil) serta terhadap orang-orang yang dimaksud umi, “Sudahkah kamu masuk Islam?” Jika mereka itu sudah masuk Islam, sungguh mereka itu telah terjadi mendapat petunjuk. Akan tetapi, jikalau merek berpaling, sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِحَقٍّۖ وَّيَقْتُلُوْنَ الَّذِيْنَ يَأْمُرُوْنَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ ٢١
innalladzîna yakfurûna bi’âyâtillâhi wa yaqtulûnan-nabiyyîna bighairi ḫaqqiw wa yaqtulûnalladzîna ya’murûna bil-qisthi minan-nâsi fa basysyir-hum bi’adzâbin alîm
Sesungguhnya orang-orang yang tersebut kufur terhadap ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang mana benar), juga membunuh manusia yang dimaksud memerintahkan keadilan, sampaikanlah untuk dia kabar ‘gembira’ tentang azab yang tersebut pedih.
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۖ وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ ٢٢
ulâ’ikalladzîna ḫabithat a’mâluhum fid-dun-yâ wal-âkhirati wa mâ lahum min nâshirîn
Mereka itulah orang-orang yang digunakan amalnya sia-sia di dalam globus lalu ke akhirat lalu tidaklah ada bagi merekan satu penolong pun.
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ اُوْتُوْا نَصِيْبًا مِّنَ الْكِتٰبِ يُدْعَوْنَ اِلٰى كِتٰبِ اللّٰهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ وَهُمْ مُّعْرِضُوْنَ ٢٣
a lam tara ilalladzîna ûtû nashîbam minal-kitâbi yud’auna ilâ kitâbillâhi liyaḫkuma bainahum tsumma yatawallâ farîqum min-hum wa hum mu’ridlûn
Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memerhatikan orang-orang (Yahudi) yang dimaksud sudah pernah diberi bagian (pengetahuan) kitab (Taurat)? Mereka diajak (berpegang) pada kitab Allah untuk memutuskan (perkara) pada antara mereka, kemudian segolongan dari mereka itu berpaling dan juga menolak (kebenaran).
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ اِلَّآ اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۖ وَّغَرَّهُمْ فِيْ دِيْنِهِمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ ٢٤
dzâlika bi’annahum qâlû lan tamassanan-nâru illâ ayyâmam ma’dûdâtiw wa gharrahum fî dînihim mâ kânû yaftarûn
Demikian itu disebabkan bahwa merekan berkata, “Api neraka tidak ada akan menyentuh kami, kecuali beberapa hitungan hari saja.” Mereka teperdaya di agamanya oleh apa yang digunakan setiap saat mereka itu ada-adakan.
فَكَيْفَ اِذَا جَمَعْنٰهُمْ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِۗ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ٢٥
fa kaifa idzâ jama’nâhum liyaumil lâ raiba fîh, wa wuffiyat kullu nafsim mâ kasabat wa hum lâ yudhlamûnBagaimanakah (nanti) apabila merekan Kami kumpulkan pada hari (Kiamat) yang tersebut tiada ada keraguan padanya kemudian setiap jiwa diberi balasan yang digunakan sempurna sesuai dengan apa yang digunakan telah dilakukan dikerjakannya tanpa dizalimi?
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ٢٦
qulillâhumma mâlikal-mulki tu’til-mulka man tasyâ’u wa tanzi’ul-mulka mim man tasyâ’u wa tu’izzu man tasyâ’u wa tudzillu man tasyâ’, biyadikal-khaîr, innaka ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan terhadap siapa pun yang Engkau kehendaki kemudian Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang digunakan Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang tersebut Engkau kehendaki juga Engkau hinakan siapa yang dimaksud Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa menghadapi segala sesuatu.
تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ٢٧
tûlijul-laila fin-nahâri wa tûlijun-nahâra fil-laili wa tukhrijul-ḫayya minal-mayyiti wa tukhrijul-mayyita minal-ḫayyi wa tarzuqu man tasyâ’u bighairi ḫisâb
Engkau masukkan waktu malam ke di siang dan juga Engkau masukkan siang ke pada malam. Engkau keluarkan yang mana hidup dari yang tersebut terhenti dan juga Engkau keluarkan yang mana tertutup dari yang hidup. Engkau berikan rezeki untuk siapa yang dimaksud Engkau kehendaki tanpa perhitungan.”
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِيْ شَيْءٍ اِلَّآ اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقٰىةًۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗۗ وَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ ٢٨l
â yattakhidzil-mu’minûnal-kâfirîna auliyâ’a min dûnil-mu’minîn, wa may yaf’al dzâlika fa laisa minallâhi fî syai’in illâ an tattaqû min-hum tuqâh, wa yuḫadzdzirukumullâhu nafsah, wa ilallâhil-mashîr
Janganlah orang-orang mukmin menjadikan pemukim kafir sebagai para wali dengan mengesampingkan orang-orang mukmin. Siapa yang dimaksud melakukan itu, hal itu sebanding sekali tidak dari (ajaran) Allah, kecuali untuk menjaga diri dari sesuatu yang digunakan kamu takuti dari mereka. Allah mengingatkan kamu tentang diri-Nya (siksa-Nya). Hanya terhadap Allah tempat kembali.
قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٢٩
qul in tukhfû mâ fî shudûrikum au tubdûhu ya’lam-hullâh, wa ya’lamu mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, wallâhu ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang mana ada pada hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang tersebut ada di langit dan juga apa yang tersebut ada ke bumi. Allah Mahakuasa melawan segala sesuatu.
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًاۛ وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍۛ تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗٓ اَمَدًا ۢ بَعِيْدًاۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗۗ وَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِࣖ ٣٠
yauma tajidu kullu nafsim mâ ‘amilat min khairim muḫdlaraw wa mâ ‘amilat min sû’, tawaddu lau anna bainahâ wa bainahû amadam ba’îdâ, wa yuḫadzdzirukumullâhu nafsah, wallâhu ra’ûfum bil-‘ibâd
(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) berhadapan dengan kebajikan yang telah terjadi dikerjakannya dihadirkan, (begitu juga balasan) melawan kejahatan yang dimaksud telah terjadi beliau kerjakan. Dia berharap seandainya ada jarak yang tersebut berjauhan antara ia juga hari itu. Allah memberi peringatan kamu akan (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٣١
qul ing kuntum tuḫibbûnallâha fattabi’ûnî yuḫbibkumullâhu wa yaghfir lakum dzunûbakum, wallâhu ghafûrur raḫîm
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan juga mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ ٣٢
qul athî’ullâha war-rasûl, fa in tawallau fa innallâha lâ yuḫibbul-kâfirîn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Taatilah Allah lalu Rasul(-Nya). Jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tiada menyukai orang-orang kafir.”
۞ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ ٣٣
innallâhashthafâ âdama wa nûḫaw wa âla ibrâhîma wa âla ‘imrâna ‘alal-‘âlamîn
Sesungguhnya Allah telah terjadi memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan juga keluarga Imran berhadapan dengan seluruh alam (manusia pada zamannya masing-masing).
ذُرِّيَّةً ۢ بَعْضُهَا مِنْۢ بَعْضٍۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۚ ٣٤
dzurriyyatam ba’dluhâ mim ba’dl, wallâhu samî’un ‘alîm
(Mereka adalah) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang mana lain. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ٣٥
idz qâlatimra’atu ‘imrâna rabbi innî nadzartu laka mâ fî bathnî muḫarraran fa taqabbal minnî, innaka antas-samî’ul-‘alîm
(Ingatlah) sewaktu istri Imran berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang digunakan ada di di kandunganku murni untuk-Mu (berkhidmat ke Baitulmaqdis). Maka, terimalah (nazar itu) dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰىۚ وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِنِّيْٓ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ ٣٦fa lammâ wadla’at-hâ qâlat rabbi innî wadla’tuhâ untsâ, wallâhu a’lamu bimâ wadla’at, wa laisadz-dzakaru kal-untsâ, wa innî sammaituhâ maryama wa innî u’îdzuhâ bika wa dzurriyyatahâ minasy-syaithânir-rajîm
Ketika melahirkannya, ia berkata, “Wahai Tuhanku, aku telah dilakukan melahirkan anak perempuan.” Padahal, Allah lebih besar tahu apa yang beliau (istri Imran) lahirkan. “Laki-laki tak mirip dengan perempuan. Aku memberinya nama Maryam dan juga memohon perlindungan-Mu untuknya serta anak cucunya dari setan yang tersebut terkutuk.”
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًاۖ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّاۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًاۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَاۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ٣٧
fa taqabbalahâ rabbuhâ biqabûlin ḫasaniw wa ambatahâ nabâtan ḫasanaw wa kaffalahâ zakariyyâ, kullamâ dakhala ‘alaihâ zakariyyal-miḫrâba wajada ‘indahâ rizqâ, qâla yâ maryamu annâ laki hâdzâ, qâlat huwa min ‘indillâh, innallâha yarzuqu may yasyâ’u bighairi ḫisâb
Dia (Allah) menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang dimaksud baik, membesarkannya dengan peningkatan yang dimaksud baik, kemudian mengemukakan pemeliharaannya terhadap Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemui dalam mihrabnya, beliau mendapati makanan ke sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki untuk siapa yang digunakan Dia kehendaki tanpa perhitungan.
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗۚ قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةًۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ ٣٨
hunâlika da’â zakariyyâ rabbah, qâla rabbi hab lî mil ladungka dzurriyyatan thayyibah, innaka samî’ud-du’â’
Di sanalah Zakaria berdoa untuk Tuhannya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang tersebut baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”
فَنَادَتْهُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَهُوَ قَاۤىِٕمٌ يُّصَلِّيْ فِى الْمِحْرَابِۙ اَنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيٰى مُصَدِّقًا ۢ بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَسَيِّدًا وَّحَصُوْرًا وَّنَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ٣٩
fa nâdat-hul-malâ’ikatu wa huwa qâ’imuy yushallî fil-miḫrâbi annallâha yubasysyiruka biyaḫyâ mushaddiqam bikalimatim minallâhi wa sayyidaw wa ḫashûraw wa nabiyyam minash-shâliḫîn
Lalu, Malaikat (Jibril) memanggilnya saat ia berdiri melaksanakan salat dalam mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya yang digunakan membenarkan kalimat dari Allah, (menjadi) anutan, menahan diri (dari hawa nafsu), juga manusia nabi pada antara orang-orang saleh.”
قَالَ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَاَتِيْ عَاقِرٌۗ قَالَ كَذٰلِكَ اللّٰهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاۤءُ ٤٠
qâla rabbi annâ yakûnu lî ghulâmuw wa qad balaghaniyal-kibaru wamra’atî ‘âqir, qâla kadzâlikallâhu yaf’alu mâ yasyâ’
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku mampu mendapat anak, sedangkan aku telah sangat tua lalu istriku pun mandul?” (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah melakukan apa yang dimaksud Dia kehendaki.”
قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْٓ اٰيَةًۗ قَالَ اٰيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَةَ اَيَّامٍ اِلَّا رَمْزًاۗ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ كَثِيْرًا وَّسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِࣖ ٤١
qâla rabbij’al lî âyah, qâla âyatuka allâ tukalliman-nâsa tsalâtsata ayyâmin illâ ramzâ, wadzkur rabbaka katsîraw wa sabbiḫ bil-‘asyiyyi wal-ibkâr
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku suatu tanda (kehamilan istriku).” Allah berfirman, “Tandanya bagimu adalah engkau bukan (dapat) berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya lalu bertasbihlah pada waktu petang dan juga pagi hari.”
وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ ٤٢
wa idz qâlatil-malâ’ikatu yâ maryamu innallâhashthafâki wa thahharaki washthafâki ‘alâ nisâ’il-‘âlamîn
(Ingatlah) pada saat Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah sudah memilihmu, menyucikanmu, kemudian melebihkanmu pada berhadapan dengan seluruh perempuan dalam semesta alam (pada masa itu).
يٰمَرْيَمُ اقْنُتِيْ لِرَبِّكِ وَاسْجُدِيْ وَارْكَعِيْ مَعَ الرّٰكِعِيْنَ ٤٣
yâ maryamuqnutî lirabbiki wasjudî warka’î ma’ar-râki’în
Wahai Maryam, taatlah terhadap Tuhanmu, sujudlah, kemudian rukuklah bersatu orang-orang yang dimaksud rukuk.”
ذٰلِكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهِ اِلَيْكَۗ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يُلْقُوْنَ اَقْلَامَهُمْ اَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يَخْتَصِمُوْنَ ٤٤
dzâlika min ambâ’il-ghaibi nûḫîhi ilaîk, wa mâ kunta ladaihim idz yulqûna aqlâmahum ayyuhum yakfulu maryama wa mâ kunta ladaihim idz yakhtashimûn
Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang digunakan Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad). Padahal, engkau bukan bersatu dia di mana dia melemparkan pena mereka itu (untuk mengundi) siapa pada antara merekan yang tersebut akan memelihara Maryam kemudian engkau tiada dengan mereka itu ketika mereka itu bersengketa.
اِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُۖ اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيْهًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ ٤٥
idz qâlatil-malâ’ikatu yâ maryamu innallâha yubasysyiruki bikalimatim min-husmuhul-masîḫu ‘îsabnu maryama wajîhan fid-dun-yâ wal-âkhirati wa minal-muqarrabîn
(Ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang (kelahiran anak yang dimaksud diciptakan) dengan kalimat dari-Nya, namanya Isa Almasih putra Maryam, individu terkemuka di dalam dunia dan juga pada akhirat juga diantaranya orang-orang yang digunakan didekatkan (kepada Allah).
وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَّمِنَ الصّٰلِحِيْنَ ٤٦
wa yukallimun-nâsa fil-mahdi wa kahlaw wa minash-shâliḫîn
Dia berbicara dengan manusia (sewaktu) pada buaian juga di mana telah dewasa dan juga satu di antaranya orang-orang saleh.”
قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌۗ قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۗ اِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ٤٧
qâlat rabbi annâ yakûnu lî waladuw wa lam yamsasnî basyar, qâla kadzâlikillâhu yakhluqu mâ yasyâ’, idzâ qadlâ amran fa innamâ yaqûlu lahû kun fa yakûn
Dia (Maryam) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin saja aku akan mempunyai anak, padahal bukan ada orang laki-laki pun yang dimaksud menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah menciptakan apa yang digunakan Dia kehendaki.” Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya sekali berkata padanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu.
وَيُعَلِّمُهُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۚ ٤٨
wa yu’allimuhul-kitâba wal-ḫikmata wat-taurâta wal-injîl
Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) kitab, hikmah, Taurat, serta Injil.
وَرَسُوْلًا اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ەۙ اَنِّيْ قَدْ جِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْۙ اَنِّيْٓ اَخْلُقُ لَكُمْ مِّنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ فَاَنْفُخُ فِيْهِ فَيَكُوْنُ طَيْرًا ۢ بِاِذْنِ اللّٰهِۚ وَاُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ وَاُحْيِ الْمَوْتٰى بِاِذْنِ اللّٰهِۚ وَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُوْنَ وَمَا تَدَّخِرُوْنَۙ فِيْ بُيُوْتِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ ٤٩
wa rasûlan ilâ banî isrâ’îla annî qad ji’tukum bi’âyatim mir rabbikum annî akhluqu lakum minath-thîni kahai’atith-thairi fa anfukhu fîhi fa yakûnu thairam bi’idznillâh, wa ubri’ul-akmaha wal-abrasha wa uḫyil-mautâ bi’idznillâh, wa unabbi’ukum bimâ ta’kulûna wa mâ taddakhirûna fî buyûtikum, inna fî dzâlika la’âyatal lakum ing kuntum mu’minîn
(Allah akan menjadikannya) sebagai pribadi rasul untuk Bani Israil. (Isa berkata,) “Sesungguhnya aku telah dilakukan datang kepadamu dengan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, sesungguhnya aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah yang mana berbentuk seperti burung. Lalu, aku meniupnya sehingga berubah menjadi seekor burung dengan izin Allah. Aku menyembuhkan pendatang yang digunakan buta sejak dari lahir lalu warga yang tersebut berpenyakit buras (belang) juga menghidupkan orang-orang meninggal dengan izin Allah. Aku beri tahukan kepadamu apa yang kamu makan dan juga apa yang digunakan kamu simpan dalam rumahmu. Sesungguhnya pada yang mana demikian itu benar-benar terdapat tanda (kerasulanku) bagimu apabila kamu orang-orang mukmin.
وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَلِاُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِيْ حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْۗ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ٥٠
wa mushaddiqal limâ baina yadayya minat-taurâti wa li’uḫilla lakum ba’dlalladzî ḫurrima ‘alaikum wa ji’tukum bi’âyatim mir rabbikum, fattaqullâha wa athî’ûn
(Aku diutus untuk) membenarkan Taurat yang (diturunkan) sebelumku lalu untuk menghalalkan bagi kamu sebagian perkara yang mana sudah pernah diharamkan untukmu. Aku datang kepadamu dengan mengakibatkan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Oleh akibat itu, bertakwalah untuk Allah juga taatlah kepadaku.
اِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُۗ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ ٥١
innallâha rabbî wa rabbukum fa’budûh, hâdzâ shirâthum mustaqîm
Sesungguhnya Allah itu Tuhanku kemudian Tuhanmu. Oleh sebab itu, sembahlah Dia. Inilah jalan yang digunakan lurus.”
۞ فَلَمَّآ اَحَسَّ عِيْسٰى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ اَنْصَارِيْٓ اِلَى اللّٰهِۗ قَالَ الْحَوَارِيُّوْنَ نَحْنُ اَنْصَارُ اللّٰهِۚ اٰمَنَّا بِاللّٰهِۚ وَاشْهَدْ بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ ٥٢
fa lammâ aḫassa ‘îsâ min-humul-kufra qâla man anshârî ilallâh, qâlal-ḫawâriyyûna naḫnu anshârullâh, âmannâ billâh, wasy-had bi’annâ muslimûn
Ketika Isa merasakan kekufuran dia (Bani Israil), beliau berkata, “Siapakah yang digunakan akan berubah menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawari (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman terhadap Allah kemudian saksikanlah sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.
رَبَّنَآ اٰمَنَّا بِمَآ اَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُوْلَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ ٥٣
rabbanâ âmannâ bimâ anzalta wattaba’nar-rasûla faktubnâ ma’asy-syâhidîn
Wahai Tuhan kami, kami telah dilakukan beriman pada apa yang digunakan Engkau turunkan dan juga kami sudah pernah mengikuti Rasul. Oleh sebab itu, tetapkanlah kami dengan orang-orang yang mana memberikan kesaksian.”
وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَࣖ ٥٤
wa makarû wa makarallâh, wallâhu khairul-mâkirîn
Mereka (orang-orang kafir) menyebabkan tipu daya juga Allah pun membalas tipu daya (mereka). Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ ٥٥
idz qâlallâhu yâ ‘îsâ innî mutawaffîka wa râfi’uka ilayya wa muthahhiruka minalladzîna kafarû wa jâ’ilulladzînattaba’ûka fauqalladzîna kafarû ilâ yaumil-qiyâmah, tsumma ilayya marji’ukum fa aḫkumu bainakum fîmâ kuntum fîhi takhtalifûn
(Ingatlah) sewaktu Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku mengambilmu, mengangkatmu kepada-Ku, menyucikanmu dari orang-orang yang kufur, lalu menjadikan orang-orang yang dimaksud mengikutimu lebih tinggi unggul daripada orang-orang yang tersebut kufur hingga hari Kiamat. Kemudian, kepada-Kulah kamu kembali, berikutnya Aku beri kebijakan tentang apa yang dimaksud terus-menerus kamu perselisihkan.
فَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَاُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۖ وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ ٥٦
fa ammalladzîna kafarû fa u’adzdzibuhum ‘adzâban syadîdan fid-dun-yâ wal-âkhirati wa mâ lahum min nâshirîn
Adapun orang-orang yang dimaksud kufur akan Aku azab merek dengan azab yang digunakan sangat keras dalam dunia serta ke akhirat kemudian sekali-kali bukan ada penolong bagi mereka.”
وَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَيُوَفِّيْهِمْ اُجُوْرَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ ٥٧
wa ammalladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti fa yuwaffîhim ujûrahum, wallâhu lâ yuḫibbudh-dhâlimîn
Sementara itu, orang-orang yang mana beriman dan juga beramal saleh akan Dia berikan pahala dia dengan sempurna. Allah bukan menyukai orang-orang zalim.
ذٰلِكَ نَتْلُوْهُ عَلَيْكَ مِنَ الْاٰيٰتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ ٥٨
dzâlika natlûhu ‘alaika minal-âyâti wadz-dzikril-ḫakîm
Itulah (kisah Isa) yang Kami bacakan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagian bukti-bukti (kebenaranmu sebagai rasul) kemudian peringatan tegas yang penuh hikmah (Al-Qur’an).
اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ٥٩
inna matsala ‘îsâ ‘indallâhi kamatsali âdam, khalaqahû min turâbin tsumma qâla lahû kun fa yakûn
Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah kemudian berfirman kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu.
اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِّنَ الْمُمْتَرِيْنَ ٦٠
al-ḫaqqu mir rabbika fa lâ takum minal-mumtarîn
Kebenaran itu dari Tuhanmu. Oleh sebab itu, janganlah engkau (Nabi Muhammad) salah satunya orang-orang yang tersebut ragu.
فَمَنْ حَاۤجَّكَ فِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ اَبْنَاۤءَنَا وَاَبْنَاۤءَكُمْ وَنِسَاۤءَنَا وَنِسَاۤءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْۗ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللّٰهِ عَلَى الْكٰذِبِيْنَ ٦١
fa man ḫâjjaka fîhi mim ba’di mâ jâ’aka minal-‘ilmi fa qul ta’âlau nad’u abnâ’anâ wa abnâ’akum wa nisâ’anâ wa nisâ’akum wa anfusanâ wa anfusakum, tsumma nabtahil fa naj’al la’natallâhi ‘alal-kâdzibîn
Siapa yang dimaksud membantahmu di hal ini setelahnya datang ilmu kepadamu, maka katakanlah (Nabi Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami juga anak-anak kamu, istri-istri kami juga istri-istri kamu, diri kami dan juga diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan untuk para pendusta.”
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّۚ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ٦٢
inna hâdzâ lahuwal-qashashul-ḫaqq, wa mâ min ilâhin illallâh, wa innallâha lahuwal-‘azîzul-ḫakîm
Sesungguhnya ini benar-benar kisah yang hak. Tidak ada tuhan selain Allah, juga sesungguhnya Allahlah yang mana benar-benar Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢ بِالْمُفْسِدِيْنَࣖ ٦٣
fa in tawallau fa innallâha ‘alîmum bil-mufsidîn
Jika mereka itu berpaling, (ketahuilah) bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ ٦٤
qul yâ ahlal-kitâbi ta’âlau ilâ kalimatin sawâ’im bainanâ wa bainakum allâ na’buda illallâha wa lâ nusyrika bihî syai’aw wa lâ yattakhidza ba’dlunâ ba’dlan arbâbam min dûnillâh, fa in tawallau fa qûlusy-hadû bi’annâ muslimûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang tersebut mirip antara kami juga kamu, (yakni) kita tidaklah menyembah selain Allah, kita tak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, kemudian bukan (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang digunakan lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika merekan berpaling, katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.”
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمَآ اُنْزِلَتِ التَّوْرٰىةُ وَالْاِنْجِيْلُ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِهٖۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ٦٥
yâ ahlal-kitâbi lima tuḫâjjûna fî ibrâhîma wa mâ unzilatit-taurâtu wal-injîlu illâ mim ba’dih, a fa lâ ta’qilûn
Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim? Padahal, Taurat dan juga Injil tiada diturunkan, kecuali pasca ia (Ibrahim). Apakah kamu tidak ada mengerti?
هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ حَاجَجْتُمْ فِيْمَا لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ واَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ٦٦
hâ’antum hâ’ulâ’i ḫâjajtum fîmâ lakum bihî ‘ilmun fa lima tuḫâjjûna fîmâ laisa lakum bihî ‘ilm, wallâhu ya’lamu wa antum lâ ta’lamûn
Begitulah kamu. Kamu berbantah-bantahan tentang apa yang tersebut kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan (juga) tentang apa yang tak kamu ketahui? Allah mengetahui, sedangkan kamu tidaklah mengetahui.
مَاكَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ٦٧
mâ kâna ibrâhîmu yahûdiyyaw wa lâ nashrâniyyaw wa lâking kâna ḫanîfam muslimâ, wa mâ kâna minal-musyrikîn
Ibrahim bukanlah individu Yahudi serta tidak pula individu Nasrani, melainkan ia adalah orang yang digunakan hanif lagi berserah diri (muslim). Dia bukanlah pula satu di antaranya (golongan) orang-orang musyrik.
اِنَّ اَوْلَى النَّاسِ بِاِبْرٰهِيْمَ لَلَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ وَهٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ وَاللّٰهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ ٦٨
inna aulan-nâsi bi’ibrâhîma lalladzînattaba’ûhu wa hâdzan-nabiyyu walladzîna âmanû, wallâhu waliyyul-mu’minîn
Sesungguhnya penduduk yang mana paling dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mana mengikutinya, Nabi ini (Nabi Muhammad), dan juga orang-orang yang mana beriman. Allah adalah pelindung orang-orang mukmin.
وَدَّتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يُضِلُّوْنَكُمْۗ وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ ٦٩
waddath thâ’ifatum min ahlil-kitâbi lau yudlillûnakum, wa mâ yudlillûna illâ anfusahum wa mâ yasy’urûn
Segolongan Ahlulkitab ingin menyesatkan kamu. Padahal, mereka tidaklah menyesatkan (siapa pun), kecuali diri dia sendiri. Akan tetapi, merekan tiada sadar.
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَاَنْتُمْ تَشْهَدُوْنَ ٧٠
yâ ahlal-kitâbi lima takfurûna bi’âyâtillâhi wa antum tasy-hadûn
Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)?
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَلْبِسُوْنَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَࣖ ٧١
yâ ahlal-kitâbi lima talbisûnal-ḫaqqa bil-bâthili wa taktumûnal-ḫaqqa wa antum ta’lamûn
Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang tersebut hak dengan yang batil juga kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?
وَقَالَتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اٰمِنُوْا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوْٓا اٰخِرَهٗ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَۚ ٧٢
wa qâlath thâ’ifatum min ahlil-kitâbi âminû billadzî unzila ‘alalladzîna âmanû waj-han-nahâri wakfurû âkhirahû la’allahum yarji’ûn
Segolongan Ahlulkitab berkata (kepada sesamanya), “Berimanlah kamu pada apa yang digunakan diturunkan untuk orang-orang yang dimaksud beriman pada awal siang serta ingkarlah pada akhir (siang) agar merek kembali (pada kekufuran).
وَلَا تُؤْمِنُوْٓا اِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِيْنَكُمْۗ قُلْ اِنَّ الْهُدٰى هُدَى اللّٰهِۙ اَنْ يُّؤْتٰىٓ اَحَدٌ مِّثْلَ مَآ اُوْتِيْتُمْ اَوْ يُحَاۤجُّوْكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْۗ قُلْ اِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللّٰهِۚ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌۚ ٧٣
wa lâ tu’minû illâ liman tabi’a dînakum, qul innal-hudâ hudallâhi ay yu’tâ aḫadum mitsla mâ ûtîtum au yuḫâjjûkum ‘inda rabbikum, qul innal-fadlla biyadillâh, yu’tîhi may yasyâ’, wallâhu wâsi’un ‘alîm
Janganlah kamu percaya selain untuk penduduk yang digunakan mengikuti agamamu.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya petunjuk (yang sempurna) itu hanyalah petunjuk Allah. (Janganlah kamu percaya) bahwa seseorang akan diberi seperti apa yang diberikan terhadap kamu atau merek akan menyanggah kamu ke hadapan Tuhanmu.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya karunia itu di dalam tangan Allah. Dia menganugerahkannya terhadap siapa yang digunakan Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”
يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ ٧٤
yakhtashshu biraḫmatihî may yasyâ’, wallâhu dzul-fadllil-‘adhîmDia menentukan rahmat-Nya terhadap siapa yang dimaksud Dia kehendaki lalu Allah miliki karunia yang tersebut besar.
۞ وَمِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مَنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُّؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِدِيْنَارٍ لَّا يُؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَ اِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَاۤىِٕمًاۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَيْسَ عَلَيْنَا فِى الْاُمِّيّٖنَ سَبِيْلٌۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ٧٥
wa min ahlil-kitâbi man in ta’man-hu biqinthâriy yu’addihî ilaîk, wa min-hum man in ta’man-hu bidînâril lâ yu’addihî ilaika illâ mâ dumta ‘alaihi qâ’imâ, dzâlika bi’annahum qâlû laisa ‘alainâ fil-ummiyyîna sabîl, wa yaqûlûna ‘alallâhil-kadziba wa hum ya’lamûn
Di antara Ahlulkitab ada penduduk yang digunakan jikalau engkau percayakan kepadanya harta yang tersebut banyak, niscaya ia mengembalikannya kepadamu. Akan tetapi, ada (pula) di dalam antara merekan pemukim yang tersebut jikalau engkau percayakan kepadanya satu dinar, beliau tiada mengembalikannya kepadamu, kecuali jikalau engkau setiap saat menagihnya. Yang demikian itu disebabkan dia berkata, “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang umi.” Mereka mengemukakan hal yang digunakan dusta terhadap Allah, padahal merek mengetahui.
بَلٰى مَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ وَاتَّقٰى فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ ٧٦
balâ man aufâ bi’ahdihî wattaqâ fa innallâha yuḫibbul-muttaqîn
Bukan begitu! Siapa yang menepati janji kemudian bertakwa, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tersebut bertakwa.
اِنَّ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَاَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلًا اُولٰۤىِٕكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ وَلَا يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٧٧
innalladzîna yasytarûna bi’ahdillâhi wa aimânihim tsamanang qalîlan ulâ’ika lâ khalâqa lahum fil-âkhirati wa lâ yukallimuhumullâhu wa lâ yandhuru ilaihim yaumal-qiyâmati wa lâ yuzakkîhim wa lahum ‘adzâbun alîm
Sesungguhnya orang-orang yang digunakan memperjualbelikan janji Allah dan juga sumpah-sumpah dia dengan nilai murah, mereka itu bukan memperoleh bagian di dalam akhirat, Allah bukan akan menyapa mereka, tidak ada akan memperhatikan dia pada hari Kiamat, lalu tak akan menyucikan mereka. Bagi merekan azab yang tersebut pedih.
وَاِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيْقًا يَّلْوٗنَ اَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتٰبِ لِتَحْسَبُوْهُ مِنَ الْكِتٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتٰبِۚ وَيَقُوْلُوْنَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ٧٨
wa inna min-hum lafarîqay yalwûna alsinatahum bil-kitâbi litaḫsabûhu minal-kitâbi wa mâ huwa minal-kitâb, wa yaqûlûna huwa min ‘indillâhi wa mâ huwa min ‘indillâh, wa yaqûlûna ‘alallâhil-kadziba wa hum ya’lamûn
Sesungguhnya dalam antara mereka (Bani Israil) ada segolongan yang dimaksud memutar-mutar lidahnya (ketika membaca) Alkitab agar kamu menyangka (yang mereka baca) itu sebagian dari Alkitab. Padahal, itu tidak dari Alkitab. Mereka berkata, “Itu dari Allah.” Padahal, itu bukanlah dari Allah. Mereka mengemukakan hal yang dimaksud dusta terhadap Allah, sedangkan merekan mengetahui.
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَۙ ٧٩
mâ kâna libasyarin ay yu’tiyahullâhul-kitâba wal-ḫukma wan-nubuwwata tsumma yaqûla lin-nâsi kûnû ‘ibâdal lî min dûnillâhi wa lâking kûnû rabbâniyyîna bimâ kuntum tu’allimûnal-kitâba wa bimâ kuntum tadrusûn
Tidak sepatutnya seseorang diberi Alkitab, hukum, serta kenabian oleh Allah, kemudian beliau berkata untuk manusia, “Jadilah kamu para penyembahku, tidak (penyembah) Allah,” tetapi (hendaknya ia berkata), “Jadilah kamu para pengabdi Allah oleh sebab itu kamu selalu mengajarkan kitab lalu mempelajarinya!”
وَلَا يَأْمُرَكُمْ اَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَالنَّبِيّٖنَ اَرْبَابًاۗ اَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ اِذْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَࣖ ٨٠
wa lâ ya’murakum an tattakhidzul-malâ’ikata wan-nabiyyîna arbâbâ, a ya’murukum bil-kufri ba’da idz antum muslimûn
Tidak (sepatutnya) pula beliau menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan juga para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) beliau menyuruh kamu (berbuat) kekufuran pasca kamu berubah jadi muslim?
وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ النَّبِيّٖنَ لَمَآ اٰتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتٰبٍ وَّحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهٖ وَلَتَنْصُرُنَّهٗۗ قَالَ ءَاَقْرَرْتُمْ وَاَخَذْتُمْ عَلٰى ذٰلِكُمْ اِصْرِيْۗ قَالُوْٓا اَقْرَرْنَاۗ قَالَ فَاشْهَدُوْا وَاَنَا۠ مَعَكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ ٨١
wa idz akhadzallâhu mîtsâqan-nabiyyîna lamâ âtaitukum ming kitâbiw wa ḫikmatin tsumma jâ’akum rasûlum mushaddiqul limâ ma’akum latu’minunna bihî wa latanshurunnah, qâla a aqrartum wa akhadztum ‘alâ dzâlikum ishrî, qâlû aqrarnâ, qâla fasy-hadû wa ana ma’akum minasy-syâhidîn
(Ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan kitab lalu hikmah kepadamu, setelah itu datang terhadap kamu pribadi rasul yang dimaksud membenarkan apa yang dimaksud ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya serta menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan juga menerima perjanjian dengan-Ku menghadapi yang tersebut demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami mengakui.” Allah berfirman, “Kalau begitu, bersaksilah kamu (para nabi) lalu Aku bermetamorfosis menjadi saksi (pula) dengan kamu.”
فَمَنْ تَوَلّٰى بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ٨٢
fa man tawallâ ba’da dzâlika fa ulâ’ika humul-fâsiqûnSiapa yang mana berpaling pasca itu, merek itulah orang-orang fasik.
اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ ٨٣
a fa ghaira dînillâhi yabghûna wa lahû aslama man fis-samâwâti wal-ardli thau’aw wa kar-haw wa ilaihi yurja’ûn
Mengapa merekan mencari agama selain agama Allah? Padahal, hanya saja kepada-Nya apa yang digunakan ada dalam langit kemudian dalam bumi berserah diri, baik dengan suka maupun terpaksa, lalu semata-mata kepada-Nya mereka dikembalikan.
قُلْ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۖ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ٨٤
qul âmannâ billâhi wa mâ unzila ‘alainâ wa mâ unzila ‘alâ ibrâhîma wa ismâ’îla wa is-ḫâqa wa ya’qûba wal-asbâthi wa mâ ûtiya mûsâ wa ‘îsâ wan-nabiyyûna mir rabbihim lâ nufarriqu baina aḫadim min-hum wa naḫnu lahû muslimûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Kami beriman terhadap Allah kemudian pada apa yang digunakan diturunkan terhadap kami juga yang digunakan diturunkan terhadap Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub beserta anak cucunya, serta apa yang tersebut diberikan terhadap Musa, Isa, dan juga para nabi dari Tuhan mereka. Kami tak membeda-bedakan manusia pun di antara mereka itu juga semata-mata kepada-Nya kami berserah diri.”
وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٨٥
wa may yabtaghi ghairal-islâmi dînan fa lay yuqbala min-h, wa huwa fil-âkhirati minal-khâsirîn
Siapa yang digunakan mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) bukan akan diterima darinya serta ke akhirat ia diantaranya orang-orang yang digunakan rugi.
كَيْفَ يَهْدِى اللّٰهُ قَوْمًا كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ وَشَهِدُوْٓا اَنَّ الرَّسُوْلَ حَقٌّ وَّجَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ٨٦
kaifa yahdillâhu qaumang kafarû ba’da îmânihim wa syahidû annar-rasûla ḫaqquw wa jâ’ahumul-bayyinât, wallâhu lâ yahdil-qaumadh-dhâlimîn
Bagaimana (mungkin) Allah akan memberi petunjuk terhadap suatu kaum yang dimaksud kufur pasca mereka beriman kemudian mengakui bahwa Rasul (Muhammad) itu benar lalu bukti-bukti yang digunakan jelas sudah sampai untuk mereka? Allah tak memberi petunjuk terhadap kaum yang dimaksud zalim.
اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ اَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللّٰهِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَۙ ٨٧
ulâ’ika jazâ’uhum anna ‘alaihim la’natallâhi wal-malâ’ikati wan-nâsi ajma’în
Mereka itu, balasannya adalah ditimpa laknat Allah, para malaikat, juga manusia seluruhnya.
خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۚ لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُوْنَۙ ٨٨
khâlidîna fîhâ, lâ yukhaffafu ‘an-humul-‘adzâbu wa lâ hum yundharûn
Mereka kekal di dalamnya (laknat). Tidak akan diringankan azab dari mereka, dan juga dia tidak ada diberi penangguhan,
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ وَاَصْلَحُوْاۗ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٨٩
illalladzîna tâbû mim ba’di dzâlika wa ashlaḫû, fa innallâha ghafûrur raḫîm
kecuali orang-orang yang tersebut bertobat setelahnya itu lalu memperbaiki (dirinya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوْا كُفْرًا لَّنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الضَّاۤلُّوْنَ ٩٠
innalladzîna kafarû ba’da îmânihim tsummazdâdû kufral lan tuqbala taubatuhum, wa ulâ’ika humudl-dlâllûn
Sesungguhnya orang-orang yang kufur setelahnya beriman, kemudian bertambah kekufurannya, tiada akan diterima tobatnya kemudian merekan itulah orang-orang sesat.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَࣖ ٩١
innalladzîna kafarû wa mâtû wa hum kuffârun fa lay yuqbala min aḫadihim mil’ul-ardli dzahabaw wa lawiftadâ bih, ulâ’ika lahum ‘adzâbun alîmuw wa mâ lahum min nâshirîn
Sesungguhnya orang-orang yang digunakan kufur lalu tertutup sebagai orang-orang kafir tak akan diterima (tebusan) dari seseorang ke antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya ia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang dimaksud mendapat azab yang dimaksud pedih juga tak ada penolong bagi mereka.
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ ٩٢
lan tanâlul-birra ḫattâ tunfiqû mimmâ tuḫibbûn, wa mâ tunfiqû min syai’in fa innallâha bihî ‘alîm
Kamu sekali-kali tak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang digunakan kamu cintai. Apa pun yang mana kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.
۞ كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِلَّا مَا حَرَّمَ اِسْرَاۤءِيْلُ عَلٰى نَفْسِهٖ مِنْ قَبْلِ اَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرٰىةُۗ قُلْ فَأْتُوْا بِالتَّوْرٰىةِ فَاتْلُوْهَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٩٣
kulluth-tha’âmi kâna ḫillal libanî isrâ’îla illâ mâ ḫarrama isrâ’îlu ‘alâ nafsihî ming qabli an tunazzalat-taurâh, qul fa’tû bit-taurâti fatlûhâ ing kuntum shâdiqîn
Semua makanan halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) melawan dirinya sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bawalah Taurat kemudian bacalah, apabila kamu orang-orang yang benar.”
فَمَنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ٩٤
fa maniftarâ ‘alallâhil-kadziba mim ba’di dzâlika fa ulâ’ika humudh-dhâlimûn
Maka, siapa yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pasca itu, mereka itu itulah orang-orang zalim.
قُلْ صَدَقَ اللّٰهُۗ فَاتَّبِعُوْا مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ٩٥
qul shadaqallâh, fattabi’û millata ibrâhîma ḫanîfâ, wa mâ kâna minal-musyrikîn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Mahabenar Allah (dalam firman-Nya).” Maka, ikutilah agama Ibrahim yang mana hanif serta ia tidaklah salah satunya orang-orang musyrik.
اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ ٩٦
inna awwala baitiw wudli’a lin-nâsi lalladzî bibakkata mubârakaw wa hudal lil-‘âlamîn
Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dimaksud dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang tersebut (berada) dalam Bakkah (Makkah) yang diberkahi serta berubah jadi petunjuk bagi seluruh alam.
فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ٩٧
fîhi âyâtum bayyinâtum maqâmu ibrâhîm, wa man dakhalahû kâna âminâ, wa lillâhi ‘alan-nâsi ḫijjul-baiti manistathâ’a ilaihi sabîlâ, wa mang kafara fa innallâha ghaniyyun ‘anil-‘âlamîn
Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang mana memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) warga yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang dimaksud mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَاللّٰهُ شَهِيْدٌ عَلٰى مَا تَعْمَلُوْنَ ٩٨
qul yâ ahlal-kitâbi lima takfurûna bi’âyâtillâhi wallâhu syahîdun ‘alâ mâ ta’malûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu terus-menerus mengingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang tersebut kamu kerjakan?”
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ تَبْغُوْنَهَا عِوَجًا وَّاَنْتُمْ شُهَدَاۤءُۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ٩٩
qul yâ ahlal-kitâbi lima tashuddûna ‘an sabîlillâhi man âmana tabghûnahâ ‘iwajaw wa antum syuhadâ’, wa mallâhu bighâfilin ‘ammâ ta’malûn
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu terus-menerus menghalang-halangi orang-orang yang tersebut beriman dari jalan Allah? Kamu (memang) menghendakinya (jalan Allah itu) berubah jadi bengkok, sedangkan kamu menyaksikan. Allah tiada lengah terhadap apa yang tersebut kamu kerjakan.”
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تُطِيْعُوْا فَرِيْقًا مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ يَرُدُّوْكُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ كٰفِرِيْنَ ١٠٠
yâ ayyuhalladzîna âmanû in tuthî’û farîqam minalladzîna ûtul-kitâba yaruddûkum ba’da îmânikum kâfirînWahai orang-orang yang digunakan beriman, jikalau kamu mengikuti segolongan dari pemukim yang diberi Alkitab, niscaya merekan akan mengatasi kamu berubah jadi orang-orang kafir setelahnya beriman.
وَكَيْفَ تَكْفُرُوْنَ وَاَنْتُمْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ اٰيٰتُ اللّٰهِ وَفِيْكُمْ رَسُوْلُهٗۗ وَمَنْ يَّعْتَصِمْ بِاللّٰهِ فَقَدْ هُدِيَ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍࣖ ١٠١
wa kaifa takfurûna wa antum tutlâ ‘alaikum âyâtullâhi wa fîkum rasûluh, wa may ya’tashim billâhi fa qad hudiya ilâ shirâthim mustaqîm
Bagaimana kamu (sampai) berubah menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan untuk kamu juga Rasul-Nya (Nabi Muhammad) pun berada dalam tengah-tengah kamu? Siapa yang tersebut berpegang teguh pada (agama) Allah, sungguh beliau sudah diberi petunjuk ke jalan yang digunakan lurus.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢
yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha ḫaqqa tuqâtihî wa lâ tamûtunna illâ wa antum muslimûn
Wahai orang-orang yang digunakan beriman, bertakwalah terhadap Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan juga janganlah kamu meninggal kecuali di keadaan muslim.
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ١٠٣
wa’tashimû biḫablillâhi jamî’aw wa lâ tafarraqû wadzkurû ni’matallâhi ‘alaikum idz kuntum a’dâ’an fa allafa baina qulûbikum fa ashbaḫtum bini’matihî ikhwânâ, wa kuntum ‘alâ syafâ ḫufratim minan-nâri fa angqadzakum min-hâ, kadzâlika yubayyinullâhu lakum âyâtihî la’allakum tahtadûn
Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, serta ingatlah nikmat Allah kepadamu saat kamu dahulu bermusuhan, berikutnya Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu berubah menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di dalam tepi jurang neraka, setelah itu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤
waltakum mingkum ummatuy yad’ûna ilal-khairi wa ya’murûna bil-ma’rûfi wa yan-hauna ‘anil-mungkar, wa ulâ’ika humul-mufliḫûn
Hendaklah ada ke antara kamu segolongan pemukim yang digunakan menyeru untuk kebajikan, menyuruh (berbuat) yang digunakan makruf, lalu mengurangi dari yang mana mungkar. Mereka itulah orang-orang yang dimaksud beruntung.
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْبَيِّنٰتُۗ وَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌۙ ١٠٥
wa lâ takûnû kalladzîna tafarraqû wakhtalafû mim ba’di mâ jâ’ahumul-bayyinât, wa ulâ’ika lahum ‘adzâbun ‘adhîm
Janganlah kamu bermetamorfosis menjadi seperti orang-orang yang mana bercerai-berai serta berselisih pasca sampai untuk mereka itu keterangan yang dimaksud jelas. Mereka itulah orang-orang yang tersebut mendapat azab yang digunakan sangat berat.
يَّوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَّتَسْوَدُّ وُجُوْهٌۚ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اسْوَدَّتْ وُجُوْهُهُمْۗ اَ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ فَذُوْقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ ١٠٦
yauma tabyadldlu wujûhuw wa taswaddu wujûh, fa ammalladzînaswaddat wujûhuhum, a kafartum ba’da îmânikum fa dzûqul-‘adzâba bimâ kuntum takfurûn
(Azab itu terjadi) pada hari sewaktu ada wajah yang tersebut putih berseri dan juga ada pula wajah yang mana hitam kusam. Adapun orang-orang yang tersebut berwajah hitam kusam (kepada mereka itu dikatakan), “Mengapa kamu kafir setelahnya beriman? Oleh oleh sebab itu itu, rasakanlah azab yang digunakan disebabkan kekafiranmu.”
وَاَمَّا الَّذِيْنَ ابْيَضَّتْ وُجُوْهُهُمْ فَفِيْ رَحْمَةِ اللّٰهِۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ١٠٧
wa ammalladzînabyadldlat wujûhuhum fa fî raḫmatillâh, hum fîhâ khâlidûn
Adapun orang-orang yang tersebut berwajah putih berseri, mereka berada di rahmat Allah (surga). Mereka kekal di dalam dalamnya.
تِلْكَ اٰيٰتُ اللّٰهِ نَتْلُوْهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّۗ وَمَا اللّٰهُ يُرِيْدُ ظُلْمًا لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٨
tilka âyâtullâhi natlûhâ ‘alaika bil-ḫaqq, wa mallâhu yurîdu dhulmal lil-‘âlamîn
Itulah ayat-ayat Allah yang dimaksud Kami bacakan kepadamu dengan benar lalu tidaklah Allah berkehendak melakukan kezaliman pada semesta alam.
وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُࣖ ١٠٩
wa lillâhi mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, wa ilallâhi turja’ul-umûr
Milik Allahlah apa yang digunakan ada ke langit dan juga apa yang digunakan ada ke bumi kemudian semata-mata terhadap Allah segala urusan dikembalikan.
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ١١٠
kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nâsi ta’murûna bil-ma’rûfi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu’minûna billâh, walau âmana ahlul-kitâbi lakâna khairal lahum, min-humul-mu’minûna wa aktsaruhumul-fâsiqûn
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang mana dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang tersebut makruf, menjaga dari dari yang mana mungkar, kemudian beriman untuk Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih tinggi baik bagi mereka. Di antara merekan ada yang dimaksud beriman dan juga kebanyakan merek adalah orang-orang fasik.
لَنْ يَّضُرُّوْكُمْ اِلَّآ اَذًىۗ وَاِنْ يُّقَاتِلُوْكُمْ يُوَلُّوْكُمُ الْاَدْبَارَۗ ثُمَّ لَا يُنْصَرُوْنَ ١١١
lay yadlurrûkum illâ adzâ, wa iy yuqâtilûkum yuwallûkumul-adbâr, tsumma lâ yunsharûn
Mereka tiada akan membahayakanmu, kecuali gangguan-gangguan kecil saja. Jika merekan memerangi kamu, niscaya merek berbalik ke belakang (kalah), kemudian merek bukan mendapat pertolongan.
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ ١١٢
dluribat ‘alaihimudz-dzillatu aina mâ tsuqifû illâ biḫablim minallâhi wa ḫablim minan-nâsi wa bâ’û bighadlabim minallâhi wa dluribat ‘alaihimul-maskanah, dzâlika bi’annahum kânû yakfurûna bi’âyâtillâhi wa yaqtulûnal-ambiyâ’a bighairi ḫaqq, dzâlika bimâ ‘ashaw wa kânû ya’tadûn
Kehinaan ditimpakan untuk dia pada mana sekadar mereka berada, kecuali jikalau merekan (berpegang) pada tali (agama) Allah juga tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah juga kesengsaraan ditimpakan untuk mereka. Yang demikian itu akibat mereka itu mengingkari ayat-ayat Allah kemudian membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang tersebut benar). Yang demikian itu sebab dia durhaka serta melampaui batas.
۞ لَيْسُوْا سَوَاۤءًۗ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اُمَّةٌ قَاۤىِٕمَةٌ يَّتْلُوْنَ اٰيٰتِ اللّٰهِ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُوْنَ ١١٣
laisû sawâ’â, min ahlil-kitâbi ummatung qâ’imatuy yatlûna âyâtillâhi ânâ’al-laili wa hum yasjudûn
Mereka tidaklah sama. Di antara Ahlulkitab ada golongan yang digunakan lurus. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada waktu malam hari di keadaan bersujud (salat).
يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ١١٤
yu’minûna billâhi wal-yaumil-âkhiri wa ya’murûna bil-ma’rûfi wa yan-hauna ‘anil-mungkari wa yusâri’ûna fil-khairât, wa ulâ’ika minash-shâliḫîn
Mereka beriman untuk Allah juga hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang tersebut makruf, menghindari dari yang digunakan mungkar, kemudian bersegera (mengerjakan) berubah-ubah kebajikan. Mereka itu di antaranya orang-orang saleh.
وَمَا يَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُّكْفَرُوْهُۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِالْمُتَّقِيْنَ ١١٥
wa mâ yaf’alû min khairin fa lay yukfarûh, wallâhu ‘alîmum bil-muttaqîn
Kebaikan apa pun yang dimaksud merek kerjakan, dia bukan akan dihalangi dari (pahala)-nya. Allah Maha Mengetahui orang-orang bertakwa.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ١١٦
innalladzîna kafarû lan tughniya ‘an-hum amwâluhum wa lâ aulâduhum minallâhi syai’â, wa ulâ’ika ash-ḫâbun-nâr, hum fîhâ khâlidûn
Sesungguhnya orang-orang yang kufur, baik harta maupun anak-anaknya, sedikit pun tidak ada dapat menolak (azab) Allah. Mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.
مَثَلُ مَا يُنْفِقُوْنَ فِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيْحٍ فِيْهَا صِرٌّ اَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَاَهْلَكَتْهُۗ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللّٰهُ وَلٰكِنْ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ ١١٧
matsalu mâ yunfiqûna fî hâdzihil-ḫayâtid-dun-yâ kamatsali rîḫin fîhâ shirrun ashâbat ḫartsa qaumin dhalamû anfusahum fa ahlakat-h, wa mâ dhalamahumullâhu wa lâkin anfusahum yadhlimûn
Perumpamaan harta yang mana merek infakkan dalam di keberadaan bola ini adalah ibarat angin yang dimaksud mengandung hawa sangat dingin yang tersebut menimpa vegetasi (milik) suatu kaum yang dimaksud menzalimi diri sendiri, sesudah itu (angin itu) merusaknya. Allah tiada menzalimi mereka, tetapi merek yang mana menzalimi diri sendiri.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًاۗ وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْۚ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ ١١٨
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tattakhidzû bithânatam min dûnikum lâ ya’lûnakum khabâlâ, waddû mâ ‘anittum, qad badatil-baghdlâ’u min afwâhihim wa mâ tukhfî shudûruhum akbar, qad bayyannâ lakumul-âyâti ing kuntum ta’qilûn
Wahai orang-orang yang digunakan beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang pada luar kalangan (agama)-mu (karena) merekan tak henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu. Mereka menginginkan apa yang tersebut menyusahkanmu. Sungguh, sudah pernah nyata kebencian dari mulut mereka lalu apa yang tersebut mereka itu sembunyikan pada hati tambahan besar. Sungguh, Kami sudah menerangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jikalau kamu berpikir.
هٰٓاَنْتُمْ اُولَاۤءِ تُحِبُّوْنَهُمْ وَلَا يُحِبُّوْنَكُمْ وَتُؤْمِنُوْنَ بِالْكِتٰبِ كُلِّهٖۚ وَاِذَا لَقُوْكُمْ قَالُوْٓا اٰمَنَّاۖ وَاِذَا خَلَوْا عَضُّوْا عَلَيْكُمُ الْاَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِۗ قُلْ مُوْتُوْا بِغَيْظِكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ ١١٩
hâ’antum ulâ’i tuḫibbûnahum wa lâ yuḫibbûnakum wa tu’minûna bil-kitâbi kullih, wa idzâ laqûkum qâlû âmannâ wa idzâ khalau ‘adldlû ‘alaikumul-anâmila minal-ghaîdh, qul mûtû bighaidhikum, innallâha ‘alîmum bidzâtish-shudûr
Begitulah kamu. Kamu menyukai mereka, padahal dia tidak ada menyukaimu, serta kamu beriman pada semua kitab. Apabila dia berjumpa denganmu, dia berkata, “Kami beriman.” Apabila dia menyendiri, dia menggigit ujung jari lantaran murka kepadamu. Katakanlah, “Matilah kamu lantaran kemurkaanmu itu!” Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْۖ وَاِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَاۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔاۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌࣖ ١٢٠
in tamsaskum ḫasanatun tasu’hum wa in tushibkum sayyi’atuy yafraḫû bihâ, wa in tashbirû wa tattaqû lâ yadlurrukum kaiduhum syai’â, innallâha bimâ ya’malûna muḫîth
Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati. Adapun jikalau kamu tertimpa bencana, merekan bergembira karenanya. Jika kamu bersabar lalu bertakwa, tidaklah tipu daya dia akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala yang dimaksud dia kerjakan.
وَاِذْ غَدَوْتَ مِنْ اَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِيْنَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ ١٢١
wa idz ghadauta min ahlika tubawwi’ul-mu’minîna maqâ’ida lil-qitâl, wallâhu samî’un ‘alîm
(Ingatlah) saat engkau (Nabi Muhammad) berangkat pada pagi hari meninggalkan keluargamu untuk mengatur orang-orang mukmin pada pos-pos pertempuran. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
اِذْ هَمَّتْ طَّۤاىِٕفَتٰنِ مِنْكُمْ اَنْ تَفْشَلَاۙ وَاللّٰهُ وَلِيُّهُمَاۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ١٢٢
idz hammath thâ’ifatâni mingkum an tafsyalâ wallâhu waliyyuhumâ, wa ‘alallâhi falyatawakkalil-mu’minûn
(Ingatlah) saat dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) dikarenakan takut, padahal Allah adalah penolong mereka. Oleh lantaran itu, hendaklah untuk Allah belaka orang-orang mukmin bertawakal.
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٢٣
wa laqad nasharakumullâhu bibadriw wa antum adzillah, fattaqullâha la’allakum tasykurûn
Sungguh, Allah benar-benar telah lama menolong kamu pada Perang Badar, padahal kamu (pada ketika itu) adalah orang-orang lemah. Oleh akibat itu, bertakwalah terhadap Allah agar kamu bersyukur.
اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُنْزَلِيْنَۗ ١٢٤
idz taqûlu lil-mu’minîna a lay yakfiyakum ay yumiddakum rabbukum bitsalâtsati âlâfim minal-malâ’ikati munzalîn
(Ingatlah) di mana engkau (Nabi Muhammad) mengutarakan untuk orang-orang mukmin, “Apakah tidaklah cukup bagimu bahwa Tuhanmu membantumu dengan tiga ribu malaikat yang tersebut diturunkan (dari langit)?”
بَلٰٓىۙ اِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ ١٢٥
balâ in tashbirû wa tattaqû wa ya’tûkum min faurihim hâdzâ yumdidkum rabbukum bikhamsati âlâfim minal-malâ’ikati musawwimîn
“Ya (cukup).” Jika kamu bersabar lalu bertakwa, berikutnya mereka itu datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang digunakan memakai tanda.
وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى لَكُمْ وَلِتَطْمَىِٕنَّ قُلُوْبُكُمْ بِهٖۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِۙ ١٢٦
wa mâ ja’alahullâhu illâ busyrâ lakum wa litathma’inna qulûbukum bih, wa man-nashru illâ min ‘indillâhil-‘azîzil-ḫakîm
Allah tidaklah menjadikannya (pertolongan itu) kecuali belaka sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)-mu kemudian agar hatimu tenang karenanya. Tidak ada kemenangan selain dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
لِيَقْطَعَ طَرَفًا مِّنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنْقَلِبُوْا خَاۤىِٕبِيْنَ ١٢٧
liyaqtha’a tharafam minalladzîna kafarû au yakbitahum fa yangqalibû khâ’ibîn
(Hal itu dilakukan) untuk membinasakan segolongan pendatang yang digunakan kufur atau untuk menjadikan merek hina sehingga dia kembali tanpa memperoleh apa pun.
لَيْسَ لَكَ مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ اَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَاِنَّهُمْ ظٰلِمُوْنَ ١٢٨
laisa laka minal-amri syai’un au yatûba ‘alaihim au yu’adzdzibahum fa innahum dhâlimûn
Hal itu identik sekali tidak berubah menjadi urusanmu (Nabi Muhammad), apakah Allah menerima tobat mereka atau mengazabnya akibat sesungguhnya dia orang-orang zalim.
وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ يَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌࣖ ١٢٩
wa lillâhi mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, yaghfiru limay yasyâ’u wa yu’adzdzibu may yasyâ’, wallâhu ghafûrur raḫîm
Milik Allahlah segala yang tersebut ada di dalam langit juga segala yang mana ada di dalam bumi. Dia mengampuni siapa yang tersebut Dia kehendaki kemudian mengazab siapa yang tersebut Dia kehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةًۖ وَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ ١٣٠
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ ta’kulur-ribâ adl’âfam mudlâ’afataw wattaqullâha la’allakum tufliḫûn
Wahai orang-orang yang dimaksud beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan juga bertakwalah untuk Allah agar kamu beruntung.
وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْٓ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَۚ ١٣١wattaqun-nârallatî u’iddat lil-kâfirînLindungilah dirimu dari api neraka yang mana disediakan bagi orang-orang kafir.
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۚ ١٣٢
wa athî’ullâha war-rasûla la’allakum tur-ḫamûn
Taatilah Allah kemudian Rasul (Nabi Muhammad) agar kamu diberi rahmat.
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣
wa sâri’û ilâ maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘ardluhas-samâwâtu wal-ardlu u’iddat lil-muttaqîn
Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu kemudian surga (yang) luasnya (seperti) langit dan juga bumi yang dimaksud disediakan bagi orang-orang yang digunakan bertakwa,
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤
alladzîna yunfiqûna fis-sarrâ’i wadl-dlarrâ’i wal-kâdhimînal-ghaidha wal-‘âfîna ‘anin-nâs, wallâhu yuḫibbul-muḫsinîn
(yaitu) orang-orang yang tersebut setiap saat berinfak, baik di dalam waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, juga orang-orang yang memaafkan (kesalahan) pemukim lain. Allah mencintai orang-orang yang mana berbuat kebaikan.
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ١٣٥
walladzîna idzâ fa’alû fâḫisyatan au dhalamû anfusahum dzakarullâha fastaghfarû lidzunûbihim, wa may yaghfirudz-dzunûba illallâh, wa lam yushirrû ‘alâ mâ fa’alû wa hum ya’lamûn
Demikian (juga) orang-orang yang tersebut apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, merek (segera) mengingat Allah tak lama kemudian memohon ampunan berhadapan dengan dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak ada meneruskan apa yang mana mereka itu kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya).
اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ وَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۗ ١٣٦
ulâ’ika jazâ’uhum maghfiratum mir rabbihim wa jannâtun tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ, wa ni’ma ajrul-‘âmilîn
Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan merekan lalu surga-surga yang tersebut mengalir di dalam bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalam dalamnya. (Itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang digunakan mengerjakan (amal-amal saleh).
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌۙ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ ١٣٧
qad khalat ming qablikum sunanun fa sîrû fil-ardli fandhurû kaifa kâna ‘âqibatul-mukadzdzibîn
Sungguh, sudah berlalu sebelum kamu sunah-sunah (Allah). Oleh dikarenakan itu, berjalanlah di (segenap penjuru) bumi lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta (rasul-rasul).
هٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَّمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ ١٣٨
hâdzâ bayânul lin-nâsi wa hudaw wa mau’idhatul lil-muttaqîn
Inilah (Al-Qur’an) suatu keterang yang mana jelas untuk semua manusia, petunjuk, lalu pelajaran bagi orang-orang yang digunakan bertakwa.
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ١٣٩
wa lâ tahinû wa lâ taḫzanû wa antumul-a’launa ing kuntum mu’minîn
Janganlah kamu (merasa) lemah lalu jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jikalau kamu orang-orang mukmin.
اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗۗ وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ ١٤٠
iy yamsaskum qar-ḫun fa qad massal-qauma qar-ḫum mitsluh, wa tilkal-ayyâmu nudâwiluhâ bainan-nâs, wa liya’lamallâhulladzîna âmanû wa yattakhidza mingkum syuhadâ’, wallâhu lâ yuḫibbudh-dhâlimîn
Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka merek pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang digunakan serupa. Masa (kejayaan serta kehancuran) itu Kami pergilirkan pada antara manusia (agar mereka itu mendapat pelajaran) lalu Allah mengetahui orang-orang beriman (yang sejati) juga sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah tidak ada menyukai orang-orang zalim.
وَلِيُمَحِّصَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَمْحَقَ الْكٰفِرِيْنَ ١٤١
wa liyumaḫḫishallâhulladzîna âmanû wa yam-ḫaqal-kâfirîn
(Pergiliran yang dimaksud juga) agar Allah membersihkan orang-orang yang tersebut beriman (dari dosa mereka) kemudian membinasakan orang-orang kafir.
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ ١٤٢
am ḫasibtum an tadkhulul-jannata wa lammâ ya’lamillâhulladzîna jâhadû mingkum wa ya’lamash-shâbirîn
Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang tersebut berjihad ke antara kamu serta belum nyata pula orang-orang yang dimaksud sabar.
وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَلْقَوْهُۖ فَقَدْ رَاَيْتُمُوْهُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَࣖ ١٤٣
wa laqad kuntum tamannaunal-mauta ming qabli an talqauhu fa qad ra’aitumûhu wa antum tandhurûn
Sungguh, kamu benar-benar mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya (peperangan). Maka, (sekarang) kamu sungguh sudah mengamati (peperangan itu) juga menyaksikan (kematian).
وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ ١٤٤
wa mâ muḫammadun illâ rasûl, qad khalat ming qablihir-rusul, a fa im mâta au qutilangqalabtum ‘alâ a’qâbikum, wa may yangqalib ‘alâ ‘aqibaihi fa lay yadlurrallâha syai’â, wa sayajzillâhusy-syâkirîn
(Nabi) Muhammad hanyalah seseorang rasul. Sebelumnya telah terjadi berlalu beberapa rasul. Apakah jikalau ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang digunakan berbalik ke belakang, maka ia bukan akan mendatangkan mudarat terhadap Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan terhadap orang-orang yang tersebut bersyukur.
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًاۗ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۚ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الْاٰخِرَةِ نُؤْتِهٖ مِنْهَاۗ وَسَنَجْزِى الشّٰكِرِيْنَ ١٤٥
wa mâ kâna linafsin an tamûta illâ bi’idznillâhi kitâbam mu’ajjalâ, wa may yurid tsawâbad-dun-yâ nu’tihî min-hâ, wa may yurid tsawâbal-âkhirati nu’tihî min-hâ, wa sanajzisy-syâkirîn
Setiap yang mana bernyawa tiada akan mati, kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang mana telah lama ditentukan waktunya. Siapa yang digunakan menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu juga siapa yang digunakan menghendaki pahala akhirat, niscaya Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu. Kami akan memberi balasan terhadap orang-orang yang digunakan bersyukur.
وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ ١٤٦
wa ka’ayyim min nabiyying qâtala ma’ahû ribbiyyûna katsîr, fa mâ wahanû limâ ashâbahum fî sabîlillâhi wa mâ dla’ufû wa mastakânû, wallâhu yuḫibbush-shâbirîn
Betapa sejumlah nabi yang digunakan berperang didampingi beberapa besar dari pengikut(-nya) yang tersebut bertakwa. Mereka tiada (menjadi) lemah sebab bencana yang tersebut menimpanya pada jalan Allah, tidaklah patah semangat, kemudian bukan (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar.
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ اِلَّآ اَنْ قَالُوْا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاِسْرَافَنَا فِيْٓ اَمْرِنَا وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ١٤٧
wa mâ kâna qaulahum illâ ang qâlû rabbanaghfir lanâ dzunûbanâ wa isrâfanâ fî amrinâ wa tsabbit aqdâmanâ wanshurnâ ‘alal-qaumil-kâfirîn
Tidak lain ucapan merek kecuali doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami juga tindakan-tindakan kami yang digunakan berlebihan pada urusan kami, tetapkanlah pembangunan kami, kemudian tolonglah kami terhadap kaum yang digunakan kafir.”
فَاٰتٰىهُمُ اللّٰهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَࣖ ١٤٨
fa âtâhumullâhu tsawâbad-dun-yâ wa ḫusna tsawâbil-âkhirah, wallâhu yuḫibbul-muḫsinîn
Maka, Allah menganugerahi mereka balasan (di) bola juga pahala yang tersebut baik (di) akhirat. Allah mencintai orang-orang yang dimaksud berbuat kebaikan.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تُطِيْعُوا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَرُدُّوْكُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ ١٤٩
yâ ayyuhalladzîna âmanû in tuthî’ulladzîna kafarû yaruddûkum ‘alâ a’qâbikum fa tangqalibû khâsirîn
Wahai orang-orang yang mana beriman, apabila kamu menaati orang-orang yang mana kufur, niscaya mereka akan mengatasi kamu ke belakang (murtad). Akibatnya, kamu akan kembali pada keadaan merugi.
بَلِ اللّٰهُ مَوْلٰىكُمْۚ وَهُوَ خَيْرُ النّٰصِرِيْنَ ١٥٠
balillâhu maulâkum, wa huwa khairun nâshirîn
Namun, (hanya) Allahlah pelindungmu juga Dia penolong yang terbaik.
سَنُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَٓا اَشْرَكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًاۚ وَمَأْوٰىهُمُ النَّارُۗ وَبِئْسَ مَثْوَى الظّٰلِمِيْنَ ١٥١
sanulqî fî qulûbilladzîna kafarur-ru’ba bimâ asyrakû billâhi mâ lam yunazzil bihî sulthânâ, wa ma’wâhumun-nâr, wa bi’sa matswadh-dhâlimîn
Kami akan memasukkan rasa takut ke di hati orang-orang yang digunakan kufur dikarenakan dia mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang dimaksud Allah bukan menurunkan keterangan tentangnya. Tempat kembali merekan adalah neraka. (Itulah) seburuk-buruk tempat tinggal (bagi) orang-orang zalim.
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّٰهُ وَعْدَهٗٓ اِذْ تَحُسُّوْنَهُمْ بِاِذْنِهٖۚ حَتّٰىٓ اِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِى الْاَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَآ اَرٰىكُمْ مَّا تُحِبُّوْنَۗ مِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الْاٰخِرَةَۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْۚ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ ١٥٢
wa laqad shadaqakumullâhu wa’dahû idz taḫussûnahum bi’idznih, ḫattâ idzâ fasyiltum wa tanâza’tum fil-amri wa ‘ashaitum mim ba’di mâ arâkum mâ tuḫibbûn, mingkum may yurîdud-dun-yâ wa mingkum may yurîdul-âkhirah, tsumma sharafakum ‘an-hum liyabtaliyakum, wa laqad ‘afâ ‘angkum, wallâhu dzû fadllin ‘alal-mu’minîn
Sungguh, Allah benar-benar telah dilakukan memenuhi janji-Nya kepadamu sewaktu kamu membunuh dia dengan izin-Nya sampai pada ketika kamu (dalam keadaan) lemah, berselisih di urusan itu, serta mengabaikan (perintah Rasul) setelahnya Allah memperlihatkan kepadamu apa yang dimaksud kamu sukai. Di antara kamu ada pendatang yang digunakan menghendaki bumi dan juga dalam antara kamu ada (pula) pemukim yang menghendaki akhirat. Kemudian, Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu. Sungguh, Dia benar-benar telah lama memaafkan kamu. Allah mempunyai karunia (yang diberikan) untuk orang-orang mukmin.
۞ اِذْ تُصْعِدُوْنَ وَلَا تَلْوٗنَ عَلٰٓى اَحَدٍ وَّالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ فِيْٓ اُخْرٰىكُمْ فَاَثَابَكُمْ غَمًّا ۢ بِغَمٍّ لِّكَيْلَا تَحْزَنُوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَآ اَصَابَكُمْۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ١٥٣
idz tush’idûna wa lâ talwûna ‘alâ aḫadiw war-rasûlu yad’ûkum fî ukhrâkum fa atsâbakum ghammam bighammil likai lâ taḫzanû ‘alâ mâ fâtakum wa lâ mâ ashâbakum, wallâhu khabîrum bimâ ta’malûn
(Ingatlah) ketika kamu lari serta tidak ada menoleh terhadap siapa pun, sedangkan Rasul (Muhammad) memanggilmu dari belakang. Oleh dikarenakan itu, Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan agar kamu tiada bersedih hati (lagi) terhadap apa yang dimaksud luput dari kamu dan juga terhadap apa yang tersebut menimpamu. Allah Mahateliti terhadap apa yang mana kamu kerjakan.
ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْۙ وَطَۤاىِٕفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِۗ يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَّنَا مِنَ الْاَمْرِ مِنْ شَيْءٍۗ قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِۗ يُخْفُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ مَّا لَا يُبْدُوْنَ لَكَۗ يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هٰهُنَاۗ قُلْ لَّوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ اِلٰى مَضَاجِعِهِمْۚ وَلِيَبْتَلِيَ اللّٰهُ مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِيْ قُلُوْبِكُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ ١٥٤
tsumma anzala ‘alaikum mim ba’dil-ghammi amanatan nu’âsay yaghsyâ thâ’ifatam mingkum wa thâ’ifatung qad ahammat-hum anfusuhum yadhunnûna billâhi ghairal-ḫaqqi dhannal-jâhiliyyah, yaqûlûna hal lanâ minal-amri min syaî’, qul innal-amra kullahû lillâh, yukhfûna fî anfusihim mâ lâ yubdûna lak, yaqûlûna lau kâna lanâ minal-amri syai’um mâ qutilnâ hâhunâ, qul lau kuntum fî buyûtikum labarazalladzîna kutiba ‘alaihimul-qatlu ilâ madlâji’ihim, wa liyabtaliyallâhu mâ fî shudûrikum wa liyumaḫḫisha mâ fî qulûbikum, wallâhu ‘alîmum bidzâtish-shudûr
Setelah kamu ditimpa kesedihan, kemudian Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang dimaksud meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi sudah pernah mencemaskan diri merek sendiri. Mereka berprasangka yang dimaksud tidak ada benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Adakah sesuatu yang mana dapat kita perbuat pada urusan ini?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya segala urusan itu di dalam tangan Allah.” Mereka menyembunyikan pada hatinya apa yang tersebut tak mereka itu terangkan kepadamu. Mereka berkata, “Seandainya ada sesuatu yang dimaksud dapat kami perbuat di urusan ini, niscaya kami tak akan dibunuh (dikalahkan) di dalam sini.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya kamu ada pada rumahmu, niscaya orang-orang yang tersebut telah terjadi ditetapkan akan terhenti terbunuh itu meninggalkan (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Allah (berbuat demikian) untuk menguji yang tersebut ada di dadamu lalu untuk membersihkan yang ada di hatimu. Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۙ اِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطٰنُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوْاۚ وَلَقَدْ عَفَا اللّٰهُ عَنْهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌࣖ ١٥٥
innalladzîna tawallau mingkum yaumaltaqal-jam’âni innamastazallahumusy-syaithânu biba’dli mâ kasabû, wa laqad ‘afallâhu ‘an-hum, innallâha ghafûrun ḫalîm
Sesungguhnya orang-orang yang digunakan berpaling di dalam antara kamu pada hari sewaktu dua pasukan bertemu, sesungguhnya merek hanyalah digelincirkan oleh setan disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang tersebut sudah mereka perbuat. Allah benar-benar sudah pernah memaafkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَقَالُوْا لِاِخْوَانِهِمْ اِذَا ضَرَبُوْا فِى الْاَرْضِ اَوْ كَانُوْا غُزًّى لَّوْ كَانُوْا عِنْدَنَا مَا مَاتُوْا وَمَا قُتِلُوْاۚ لِيَجْعَلَ اللّٰهُ ذٰلِكَ حَسْرَةً فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ وَاللّٰهُ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ١٥٦
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ takûnû kalladzîna kafarû wa qâlû li’ikhwânihim idzâ dlarabû fil-ardli au kânû ghuzzal lau kânû ‘indanâ mâ mâtû wa mâ qutilû, liyaj’alallâhu dzâlika ḫasratan fî qulûbihim, wallâhu yuḫyî wa yumît, wallâhu bimâ ta’malûna bashîr
Wahai orang-orang yang mana beriman, janganlah seperti orang-orang yang digunakan kufur serta berbicara tentang saudara-saudaranya, apabila mereka mengadakan perjalanan pada bumi atau berperang, “Seandainya mereka itu kekal sama-sama kami, tentulah merek tidaklah tertutup kemudian tidak ada terbunuh.” (Allah membiarkan mereka itu bersikap demikian) akibat Allah hendak menjadikan itu (kelak) sebagai penyesalan di hati mereka.
وَلَىِٕنْ قُتِلْتُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ١٥٧
wa la’ing qutiltum fî sabîlillâhi au muttum lamaghfiratum minallâhi wa raḫmatun khairum mimmâ yajma’ûn
Sungguh, apabila kamu gugur pada jalan Allah atau mati, pastilah ampunan Allah serta rahmat-Nya lebih besar baik (bagimu) daripada apa (harta rampasan) yang digunakan merek kumpulkan.
وَلَىِٕنْ مُّتُّمْ اَوْ قُتِلْتُمْ لَاِلَى اللّٰهِ تُحْشَرُوْنَ ١٥٨
wa la’im muttum au qutiltum la’ilallâhi tuḫsyarûn
Sungguh, apabila kamu berakhir atau gugur, pastilah terhadap Allah kamu dikumpulkan.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ١٥٩
fa bimâ raḫmatim minallâhi linta lahum, walau kunta fadhdhan ghalîdhal-qalbi lanfadldlû min ḫaulika fa’fu ‘an-hum wastaghfir lahum wa syâwir-hum fil-amr, fa idzâ ‘azamta fa tawakkal ‘alallâh, innallâha yuḫibbul-mutawakkilîn
Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras juga berhati kasar, tentulah merek akan menjauh dari sekitarmu. Oleh akibat itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, kemudian bermusyawarahlah dengan mereka itu pada segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah lama membulatkan tekad, bertawakallah untuk Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang dimaksud bertawakal.
اِنْ يَّنْصُرْكُمُ اللّٰهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْۚ وَاِنْ يَّخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِهٖۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ١٦٠
iy yanshurkumullâhu fa lâ ghâliba lakum, wa iy yakhdzulkum fa man dzalladzî yanshurukum mim ba’dih, wa ‘alallâhi falyatawakkalil-mu’minûn
Jika Allah menolongmu, tidak ada ada yang tersebut (dapat) mengalahkanmu juga jikalau Dia membiarkanmu (tidak memberimu pertolongan), siapa yang digunakan (dapat) menolongmu setelahnya itu? Oleh oleh sebab itu itu, hendaklah terhadap Allah sekadar orang-orang mukmin bertawakal.
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّغُلَّۗ وَمَنْ يَّغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۚ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ١٦١
wa mâ kâna linabiyyin ay yaghull, wa may yaghlul ya’ti bimâ ghalla yaumal-qiyâmah, tsumma tuwaffâ kullu nafsim mâ kasabat wa hum lâ yudhlamûn
Tidak layak orang nabi menyelewengkan (harta rampasan perang). Siapa yang digunakan menyelewengkan (-nya), niscaya pada hari Kiamat beliau akan datang mengakibatkan apa yang mana diselewengkannya itu. Kemudian, setiap pemukim akan diberi balasan secara sempurna sesuai apa yang tersebut merek lakukan kemudian merekan bukan dizalimi.
اَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللّٰهِ كَمَنْۢ بَاۤءَ بِسَخَطٍ مِّنَ اللّٰهِ وَمَأْوٰىهُ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ١٦٢
a fa manittaba’a ridlwânallâhi kamam bâ’a bisakhathim minallâhi wa ma’wâhu jahannam, wa bi’sal-mashîr
Apakah warga yang dimaksud mengikuti (jalan) rida Allah sejenis dengan khalayak yang digunakan kembali dengan menyebabkan kemurkaan dari Allah serta tempatnya adalah (neraka) Jahanam? Itulah seburuk-buruk tempat kembali.
هُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌ ۢ بِمَا يَعْمَلُوْنَ ١٦٣
hum darajâtun ‘indallâh, wallâhu bashîrum bimâ ya’malûnMereka bertingkat-tingkat pada sisi Allah. Allah Maha Melihat apa yang mereka itu kerjakan.
لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ١٦٤
laqad mannallâhu ‘alal-mu’minîna idz ba’atsa fîhim rasûlam min anfusihim yatlû ‘alaihim âyâtihî wa yuzakkîhim wa yu’allimuhumul-kitâba wal-ḫikmah, wa ing kânû ming qablu lafî dlalâlim mubîn
Sungguh, Allah benar-benar telah terjadi memberi karunia untuk orang-orang mukmin saat (Dia) mengutus di tengah-tengah merekan orang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang tersebut membacakan terhadap dia ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, kemudian mengajarkan terhadap mereka itu Kitab Suci (Al-Qur’an) juga hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar di kesesatan yang tersebut nyata.
اَوَلَمَّآ اَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَدْ اَصَبْتُمْ مِّثْلَيْهَاۙ قُلْتُمْ اَنّٰى هٰذَاۗ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اَنْفُسِكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ١٦٥
a wa lammâ ashâbatkum mushîbatung qad ashabtum mitslaihâ qultum annâ hâdzâ, qul huwa min ‘indi anfusikum, innallâha ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Apakah ketika kamu ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah lama memperoleh (kenikmatan) dua kali lipatnya (pada Perang Badar), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Mahakuasa berhadapan dengan segala sesuatu.
وَمَآ اَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ فَبِاِذْنِ اللّٰهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِيْنَۙ ١٦٦
wa mâ ashâbakum yaumaltaqal-jam’âni fa bi’idznillâhi wa liya’lamal-mu’minîn
Apa yang tersebut menimpa kamu pada hari di mana dua pasukan bertemu berlangsung berhadapan dengan izin Allah kemudian agar Dia mengetahui siapa pemukim (yang benar-benar) beriman
وَلِيَعْلَمَ الَّذِيْنَ نَافَقُوْاۖ وَقِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَوِ ادْفَعُوْاۗ قَالُوْا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّاتَّبَعْنٰكُمْۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَىِٕذٍ اَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْاِيْمَانِۚ يَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِهِمْ مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُوْنَۚ ١٦٧
wa liya’lamalladzîna nâfaqû wa qîla lahum ta’âlau qâtilû fî sabîlillâhi awidfa’û, qâlû lau na’lamu qitâlal lattaba’nâkum, hum lil-kufri yauma’idzin aqrabu min-hum lil-îmân, yaqûlûna bi’afwâhihim mâ laisa fî qulûbihim, wallâhu a’lamu bimâ yaktumûn
dan mengetahui orang-orang yang dimaksud munafik. Dikatakan terhadap mereka, “Marilah berperang dalam jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).” Mereka menjawab, “Seandainya kami mengetahui (bagaimana cara) berperang, tentulah kami mengikutimu.” Mereka pada hari itu tambahan dekat pada kekufuran daripada keimanan. Mereka mengungkapkan dengan mulutnya sesuatu yang tidak ada ada di hatinya. Allah lebih tinggi mengetahui segala sesuatu yang mereka sembunyikan.
اَلَّذِيْنَ قَالُوْا لِاِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوْا لَوْ اَطَاعُوْنَا مَا قُتِلُوْاۗ قُلْ فَادْرَءُوْا عَنْ اَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ١٦٨
alladzîna qâlû li’ikhwânihim wa qa’adû lau athâ’ûnâ mâ qutilû, qul fadra’û ‘an anfusikumul-mauta ing kuntum shâdiqîn
(Mereka itu adalah) orang-orang yang tersebut berbicara tentang saudara-saudaranya (yang mengambil bagian berperang serta terbunuh), sedangkan mereka sendiri bukan turut berperang, “Seandainya dia mengikuti kami, tentulah mereka itu tiada terbunuh.” Katakanlah, “Cegahlah kematian itu dari dirimu apabila kamu orang-orang benar.”
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًاۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ ١٦٩
wa lâ taḫsabannalladzîna qutilû fî sabîlillâhi amwâtâ, bal aḫyâ’un ‘inda rabbihim yurzaqûn
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur pada jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu hidup juga dianugerahi rezeki dalam sisi Tuhannya.
فَرِحِيْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۙ وَيَسْتَبْشِرُوْنَ بِالَّذِيْنَ لَمْ يَلْحَقُوْا بِهِمْ مِّنْ خَلْفِهِمْۙ اَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۘ ١٧٠
fariḫîna bimâ âtâhumullâhu min fadllihî wa yastabsyirûna billadzîna lam yal-ḫaqû bihim min khalfihim allâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yaḫzanûn
Mereka bergembira dengan karunia yang tersebut Allah anugerahkan kepadanya dan juga bergirang hati berhadapan dengan (keadaan) orang-orang yang tersebut berada pada belakang yang belum menyusul mereka, yaitu bahwa tidak ada ada rasa takut pada merekan serta mereka itu tiada bersedih hati.
۞ يَسْتَبْشِرُوْنَ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضْلٍۗ وَاَنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُؤْمِنِيْنَࣖ ١٧١
yastabsyirûna bini’matim minallâhi wa fadll, wa annallâha lâ yudlî’u ajral-mu’minîn
Mereka bergirang hati dengan nikmat dan juga karunia dari Allah kemudian bahwa sesungguhnya Allah bukan menyia-nyiakan pahala orang-orang mukmin,
اَلَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِلّٰهِ وَالرَّسُوْلِ مِنْۢ بَعْدِ مَآ اَصَابَهُمُ الْقَرْحُۖ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا اَجْرٌ عَظِيْمٌۚ ١٧٢
alladzînastajâbû lillâhi war-rasûli mim ba’di mâ ashâbahumul-qar-ḫu lilladzîna aḫsanû min-hum wattaqau ajrun ‘adhîm
(yaitu) orang-orang yang digunakan memenuhi (seruan) Allah juga Rasul pasca merekan menderita luka-luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang dimaksud berbuat kebaikan serta bertakwa ke antara mereka itu akan mendapat pahala yang tersebut sangat besar,
اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ١٧٣
alladzîna qâla lahumun-nâsu innan-nâsa qad jama’û lakum fakhsyauhum fa zâdahum îmânaw wa qâlû ḫasbunallâhu wa ni’mal-wakîl
(yaitu) dia yang mana (ketika ada) orang-orang memaparkan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah dilakukan mengakumulasi (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh akibat itu, takutlah terhadap mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman merekan serta mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami serta Dia sebaik-baik pelindung.”
فَانْقَلَبُوْا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوْۤءٌۙ وَّاتَّبَعُوْا رِضْوَانَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَظِيْمٍ ١٧٤
fangqalabû bini’matim minallâhi wa fadllil lam yamsas-hum sû’uw wattaba’û ridlwânallâh, wallâhu dzû fadllin ‘adhîm
Mereka kembali dengan nikmat serta karunia dari Allah. Mereka tak ditimpa suatu bencana serta merekan mengikuti (jalan) rida Allah. Allah mempunyai karunia yang digunakan besar.
اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗۖ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ١٧٥
innamâ dzâlikumusy-syaithânu yukhawwifu auliyâ’ahû fa lâ takhâfûhum wa khâfûni ing kuntum mu’minîn
Sesungguhnya merekan hanyalah setan yang mana menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya. Oleh sebab itu, janganlah takut terhadap mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, apabila kamu orang-orang mukmin.
وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِى الْكُفْرِۚ اِنَّهُمْ لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ اَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِى الْاٰخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌۚ ١٧٦
wa lâ yaḫzungkalladzîna yusâri’ûna fil-kufr, innahum lay yadlurrullâha syai’â, yurîdullâhu allâ yaj’ala lahum ḫadhdhan fil-âkhirati wa lahum ‘adzâbun ‘adhîm
Janganlah engkau (Nabi Muhammad) dirisaukan oleh orang-orang yang tersebut dengan cepat melakukan kekufuran. Sesungguhnya sedikit pun mereka tak merugikan Allah. Allah tidak ada akan memberi bagian (pahala) untuk dia ke akhirat lalu dia akan mendapat azab yang sangat besar.
اِنَّ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الْكُفْرَ بِالْاِيْمَانِ لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١٧٧
innalladzînasytarawul-kufra bil-îmâni lay yadlurrullâha syai’â, wa lahum ‘adzâbun alîm
Sesungguhnya orang-orang yang tersebut membeli kekufuran dengan iman sedikit pun tak merugikan Allah lalu akan mendapat azab yang dimaksud sangat pedih.
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ خَيْرٌ لِّاَنْفُسِهِمْۗ اِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَادُوْٓا اِثْمًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ ١٧٨
wa lâ yaḫsabannalladzîna kafarû annamâ numlî lahum khairul li’anfusihim, innamâ numlî lahum liyazdâdû itsmâ, wa lahum ‘adzâbum muhîn
Jangan sekali-kali orang-orang kafir mengira bahwa sesungguhnya tenggang waktu yang dimaksud Kami berikan kepadanya baik bagi dirinya. Sesungguhnya Kami memberinya tenggang waktu hanya saja agar dosa merekan makin bertambah juga mereka itu akan mendapat azab yang dimaksud menghinakan.
مَا كَانَ اللّٰهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلٰى مَآ اَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتّٰى يَمِيْزَ الْخَبِيْثَ مِنَ الطَّيِّبِۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَجْتَبِيْ مِنْ رُّسُلِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۖ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۚ وَاِنْ تُؤْمِنُوْا وَتَتَّقُوْا فَلَكُمْ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ١٧٩
mâ kânallâhu liyadzaral-mu’minîna ‘alâ mâ antum ‘alaihi ḫattâ yamîzal-khabîtsa minath-thayyib, wa mâ kânallâhu liyuthli’akum ‘alal-ghaibi wa lâkinnallâha yajtabî mir rusulihî may yasyâ’u fa âminû billâhi wa rusulih, wa in tu’minû wa tattaqû fa lakum ajrun ‘adhîm
Allah tidak ada akan membiarkan orang-orang mukmin pada keadaan sebagaimana kamu sekarang ini, (tetapi Allah akan mengujinya) sehingga Dia membedakan yang dimaksud buruk dari yang baik. Allah bukan akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang digunakan gaib, tetapi Allah memilih siapa yang mana Dia kehendaki dalam antara rasul-rasul-Nya. Oleh dikarenakan itu, berimanlah terhadap Allah kemudian rasul-rasul-Nya. Jika kamu beriman kemudian bertakwa, kamu akan mendapat pahala yang digunakan sangat besar.
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ هُوَ خَيْرًا لَّهُمْۗ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْۗ سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِهٖ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ وَلِلّٰهِ مِيْرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌࣖ ١٨٠
wa lâ yaḫsabannalladzîna yabkhalûna bimâ âtâhumullâhu min fadllihî huwa khairal lahum, bal huwa syarrul lahum, sayuthawwaqûna mâ bakhilû bihî yaumal-qiyâmah, wa lillâhi mîrâtsus-samâwâti wal-ardl, wallâhu bimâ ta’malûna khabîr
Jangan sekali-kali orang-orang yang digunakan kikir dengan karunia yang tersebut Allah anugerahkan kepadanya mengira bahwa (kekikiran) itu baik bagi mereka. Sebaliknya, (kekikiran) itu buruk bagi mereka. Pada hari Kiamat, mereka akan dikalungi dengan sesuatu yang dimaksud dengannya dia berbuat kikir. Milik Allahlah warisan (yang ada di) langit serta ke bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang digunakan kamu kerjakan.
لَقَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ فَقِيْرٌ وَّنَحْنُ اَغْنِيَاۤءُۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوْا وَقَتْلَهُمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۙ وَّنَقُوْلُ ذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ ١٨١
laqad sami’allâhu qaulalladzîna qâlû innallâha faqîruw wa naḫnu aghniyâ’, sanaktubu mâ qâlû wa qatlahumul-ambiyâ’a bighairi ḫaqqiw wa naqûlu dzûqû ‘adzâbal-ḫarîq
Sungguh, Allah benar-benar telah dilakukan mendengar perkataan orang-orang (Yahudi) yang digunakan mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu miskin juga kami kaya.” Kami akan mencatatkan perkataan mereka itu lalu pembunuhan terhadap nabi-nabi yang digunakan mereka lakukan tanpa hak (alasan yang benar). Kami akan mengungkapkan (kepada merek pada hari Kiamat), “Rasakanlah azab yang mana membakar!”
ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْكُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِۚ ١٨٢
dzâlika bimâ qaddamat aidîkum wa annallâha laisa bidhallâmil lil-‘abîd
Yang demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu (sendiri) dan juga sesungguhnya Allah (sama sekali) tidak ada menzalimi hamba-hamba-Nya.
اَلَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ عَهِدَ اِلَيْنَآ اَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُوْلٍ حَتّٰى يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُۗ قُلْ قَدْ جَاۤءَكُمْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِيْ بِالْبَيِّنٰتِ وَبِالَّذِيْ قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوْهُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ١٨٣
alladzîna qâlû innallâha ‘ahida ilainâ allâ nu’mina lirasûlin ḫattâ ya’tiyanâ biqurbânin ta’kuluhun-nâr, qul qad jâ’akum rusulum ming qablî bil-bayyinâti wa billadzî qultum fa lima qataltumûhum ing kuntum shâdiqîn
(Mereka adalah) orang-orang (Yahudi) yang mana mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah lama memerintahkan untuk kami agar kami tak beriman untuk individu rasul sebelum ia mendatangkan untuk kami kurban yang mana dimakan api (yang datang dari langit).” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sungguh, beberapa rasul sebelumku telah lama datang kepadamu dengan (membawa) bukti-bukti yang tersebut nyata dan juga menghadirkan apa yang digunakan kamu sebutkan. Akan tetapi, mengapa kamu membunuh merek apabila kamu orang-orang yang benar?”
فَاِنْ كَذَّبُوْكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ جَاۤءُوْ بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتٰبِ الْمُنِيْرِ ١٨٤
fa ing kadzdzabûka fa qad kudzdziba rusulum ming qablika jâ’û bil-bayyinâti waz-zuburi wal-kitâbil-munîr
Maka, jikalau mereka mendustakanmu (Nabi Muhammad), sungguh rasul-rasul sebelummu pun sudah didustakan. Mereka datang dengan (membawa) mukjizat-mukjizat yang tersebut nyata, zubur, serta Alkitab yang tersebut memberi penjelasan yang mana sempurna.
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ١٨٥
kullu nafsin dzâ’iqatul maût, wa innamâ tuwaffauna ujûrakum yaumal-qiyâmah, fa man zuḫziḫa ‘anin-nâri wa udkhilal-jannata fa qad fâz, wa mal-ḫayâtud-dun-yâ illâ matâ’ul-ghurûr
Setiap yang dimaksud bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang digunakan dijauhkan dari neraka kemudian dimasukkan ke pada surga, sungguh ia memperoleh kemenangan. Kehidupan planet hanyalah kesenangan yang mana memperdaya.
۞ لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرًاۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ١٨٦
latublawunna fî amwâlikum wa anfusikum, wa latasma’unna minalladzîna ûtul-kitâba ming qablikum wa minalladzîna asyrakû adzang katsîrâ, wa in tashbirû wa tattaqû fa inna dzâlika min ‘azmil-umûr
Kamu pasti akan diuji di (urusan) hartamu lalu dirimu. Kamu pun pasti akan mendengar berbagai hal yang dimaksud sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang mana diberi Alkitab sebelum kamu juga dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar juga bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu diantaranya urusan yang digunakan (patut) diutamakan.
وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهٗ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُوْنَهٗۖ فَنَبَذُوْهُ وَرَاۤءَ ظُهُوْرِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُوْنَ ١٨٧
wa idz akhadzallâhu mîtsâqalladzîna ûtul-kitâba latubayyinunnahû lin-nâsi wa lâ taktumûnahû fa nabadzûhu warâ’a dhuhûrihim wasytarau bihî tsamanang qalîlâ, fa bi’sa mâ yasytarûn
(Ingatlah) di mana Allah menyebabkan perjanjian dengan orang-orang yang sudah pernah diberi Alkitab (dengan berfirman), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkan (isi Alkitab itu) untuk manusia dan juga janganlah kamu menyembunyikannya.” Lalu, merekan melemparkannya (janji itu) ke belakang punggung merekan (mengabaikannya) serta menukarnya dengan nilai yang digunakan murah. Maka, itulah seburuk-buruk jual beli yang dimaksud mereka lakukan.
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اَتَوْا وَّيُحِبُّوْنَ اَنْ يُّحْمَدُوْا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ١٨٨
lâ taḫsabannalladzîna yafraḫûna bimâ ataw wa yuḫibbûna ay yuḫmadû bimâ lam yaf’alû fa lâ taḫsabannahum bimafâzatim minal-‘adzâb, wa lahum ‘adzâbun alîm
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa khalayak yang tersebut gembira dengan apa (perbuatan buruk) yang digunakan sudah merek kerjakan serta suka dipuji menghadapi perbuatan (yang mereka anggap baik) yang mana tak merekan lakukan, kamu jangan sekali-kali mengira bahwa merek akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang digunakan sangat pedih.
وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌࣖ ١٨٩
wa lillâhi mulkus-samâwâti wal-ardl, wallâhu ‘alâ kulli syai’ing qadîr
Milik Allahlah kerajaan langit dan juga bumi. Allah Mahakuasa menghadapi segala sesuatu.
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠
inna fî khalqis-samâwâti wal-ardli wakhtilâfil-laili wan-nahâri la’âyâtil li’ulil-albâb
Sesungguhnya di penciptaan langit kemudian bumi dan juga pergantian waktu malam lalu siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi pendatang yang digunakan berakal,
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١
alladzîna yadzkurûnallâha qiyâmaw wa qu’ûdaw wa ‘alâ junûbihim wa yatafakkarûna fî khalqis-samâwâti wal-ardl, rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilâ, sub-ḫânaka fa qinâ ‘adzâban-nâr
(yaitu) orang-orang yang digunakan mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau pada keadaan berbaring, lalu memikirkan tentang penciptaan langit dan juga bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.
رَبَّنَآ اِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ اَخْزَيْتَهٗۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ ١٩٢
rabbanâ innaka man tudkhilin-nâra fa qad akhzaitah, wa mâ lidh-dhâlimîna min anshâr
Ya Tuhan kami, sesungguhnya pendatang yang tersebut Engkau masukkan ke pada neraka, maka Engkau benar-benar sudah menghinakannya serta tiada ada seseorang penolong pun bagi khalayak yang digunakan zalim.
رَبَّنَآ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُّنَادِيْ لِلْاِيْمَانِ اَنْ اٰمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَاٰمَنَّاۖ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِۚ ١٩٣
rabbanâ innanâ sami’nâ munâdiyay yunâdî lil-îmâni an âminû birabbikum fa âmannâ rabbanâ faghfir lanâ dzunûbanâ wa kaffir ‘annâ sayyi’âtinâ wa tawaffanâ ma’al-abrâr
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar pemukim yang digunakan menyeru pada keimanan, yaitu ‘Berimanlah kamu untuk Tuhanmu,’ maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, serta wafatkanlah kami beserta orang-orang yang mana terus-menerus berbuat kebaikan.
رَبَّنَا وَاٰتِنَا مَا وَعَدْتَّنَا عَلٰى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ ١٩٤
rabbanâ wa âtinâ mâ wa’attanâ ‘alâ rusulika wa lâ tukhzinâ yaumal-qiyâmah, innaka lâ tukhliful-mî’âd
Ya Tuhan kami, anugerahilah kami apa yang tersebut sudah Engkau janjikan untuk kami melalui rasul-rasul-Mu lalu janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tiada pernah mengingkari janji.”
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ اَنِّيْ لَآ اُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰىۚ بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۚ فَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَاُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاُوْذُوْا فِيْ سَبِيْلِيْ وَقٰتَلُوْا وَقُتِلُوْا لَاُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَاُدْخِلَنَّهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ ثَوَابًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الثَّوَابِ ١٩٥
fastajâba lahum rabbuhum annî lâ udlî’u ‘amala ‘âmilim mingkum min dzakarin au untsâ, ba’dlukum mim ba’dl, falladzîna hâjarû wa ukhrijû min diyârihim wa ûdzû fî sabîlî wa qâtalû wa qutilû la’ukaffiranna ‘an-hum sayyi’âtihim wa la’udkhilannahum jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâr, tsawâbam min ‘indillâh, wallâhu ‘indahû ḫusnuts-tsawâb
Maka, Tuhan merekan memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tiada menyia-nyiakan perbuatan penduduk yang tersebut beramal di dalam antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang dimaksud lain. Maka, orang-orang yang digunakan berhijrah, diusir dari kampung halamannya, disakiti pada jalan-Ku, berperang, kemudian terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka itu serta pasti Aku masukkan merekan ke pada surga-surga yang digunakan mengalir dalam bawahnya sungai-sungai sebagai pahala dari Allah. Di sisi Allahlah ada pahala yang digunakan baik.”
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِۗ ١٩٦
lâ yaghurrannaka taqallubulladzîna kafarû fil-bilâd
Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh bolak-balik perjalanan orang-orang yang dimaksud kufur pada seluruh negeri.
مَتَاعٌ قَلِيْلٌۗ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ١٩٧
matâ’ung qalîl, tsumma ma’wâhum jahannam, wa bi’sal-mihâd
(Semua itu hanyalah) kesenangan sementara, kemudian tempat kembali dia ialah (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.
لٰكِنِ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا نُزُلًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّلْاَبْرَارِ ١٩٨
lâkinilladzînattaqau rabbahum lahum jannâtun tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ nuzulam min ‘indillâh, wa mâ ‘indallâhi khairul lil-abrâr
Akan tetapi, orang-orang yang digunakan bertakwa terhadap Tuhannya, dia akan mendapat surga-surga yang mengalir dalam bawahnya sungai-sungai kemudian mereka kekal dalam dalamnya sebagai karunia dari Allah. Apa yang mana di dalam sisi Allah itu lebih tinggi baik bagi orang-orang yang terus-menerus berbuat baik.
وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِۙ لَا يَشْتَرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ١٩٩
wa inna min ahlil-kitâbi lamay yu’minu billâhi wa mâ unzila ilaikum wa mâ unzila ilaihim khâsyi’îna lillâhi lâ yasytarûna bi’âyâtillâhi tsamanang qalîlâ, ulâ’ika lahum ajruhum ‘inda rabbihim, innallâha sarî’ul-ḫisâb
Sesungguhnya di antara Ahlulkitab ada yang dimaksud beriman untuk Allah lalu pada apa yang digunakan diturunkan terhadap kamu kemudian yang dimaksud diturunkan untuk mereka. Mereka berendah hati untuk Allah serta tidaklah menukarkan ayat-ayat Allah dengan tarif murah. Mereka itu memperoleh pahala di dalam sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan-Nya.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَࣖ ٢٠٠
yâ ayyuhalladzîna âmanushbirû wa shâbirû wa râbithû, wattaqullâha la’allakum tufliḫûn
Wahai orang-orang yang tersebut beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga dalam perbatasan (negerimu), lalu bertakwalah terhadap Allah agar kamu beruntung.
Artikel ini disadur dari Surat Ali Imran Full: Arab, Latin dan Terjemahannya




