Sering dibahas pada medsos, apa itu “reverse psychology:?

DKI Jakarta – Belakangan ini, istilah reverse psychology banyak diperbincangkan di dalam media sosial. Banyak warganet yang dimaksud mulai menyadari bahwa ada cara halus namun efektif untuk mempengaruhi warga lain agar melakukan sesuatu tanpa harus memintanya secara langsung.
Sering kali kita menemui situasi pada mana seseorang justru terdorong untuk melakukan hal yang mana dilarang atau disarankan untuk tiada dilakukan. Fenomena seperti ini sebenarnya bukanlah kebetulan, melainkan merupakan bagian dari mekanisme psikologis yang mana dikenal dengan istilah reverse psychology. Teknik ini memanfaatkan kecenderungan alami manusia untuk menanggapi larangan atau perintah dengan cara yang tersebut berlawanan, menciptakan efek yang terkadang tak terduga.
Di balik kesederhanaannya, reverse psychology miliki kekuatan besar pada mempengaruhi langkah serta perilaku, baik pada konteks sosial maupun profesional. Namun meskipun banyak digunakan, sejumlah penduduk yang dimaksud kemungkinan besar belum menyadari seberapa banyak trik ini diterapkan pada keberadaan sehari-hari.
Apa itu reverse psychology?
Reverse psychology adalah strategi yang dimaksud digunakan untuk mempengaruhi warga lain agar bertugas sesuai dengan keinginan kita, tanpa harus memintanya secara langsung. Caranya adalah dengan menyampaikan hal yang tersebut seolah-olah berlawanan dari apa yang digunakan sebenarnya kita harapkan.
Contohnya, di mana seseorang mengatakan, “Anda pasti tidak ada akan bisa jadi mengerjakan hal itu” dengan harapan Anda justru akan termotivasi untuk membuktikan bahwa Anda mampu.
Dalam istilah psikologi, teknik ini dikenal juga sebagai strategic self-anticonformity yakni di mana seseorang menyampaikan sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginannya yang dimaksud sebenarnya, demi mendapatkan reaksi yang dimaksud diharapkan dari pendatang lain.
Penelitian pada 2010 menunjukkan bahwa teknik ini cukup efektif untuk membujuk khalayak lain juga bahkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri atau keyakinan ke antara pihak yang dimaksud terlibat.
Namun, bagi pihak yang dimaksud menjadi sasaran, reverse psychology bisa memulai reaksi emosional yang mana disebut reactance yaitu dorongan untuk berperang melawan pengaruh warga lain demi mempertahankan kebebasan atau kendali diri. Yang menarik, walau merasa sedang melawan, kita justru berakhir melakukan hal yang mana diinginkan oleh pendatang tersebut.
Contoh reverse psychology pada keberadaan sehari-hari
Teknik ini kerap digunakan di berubah-ubah situasi tanpa disadari, mulai dari parenting, hubungan romantis, hingga strategi pemasaran. Beberapa contohnya:
1. Dalam transaksi jual beli dan juga marketing, sales mungkin saja memulai dengan penawaran harga jual besar untuk memancing calon pembeli agar menawar tarif yang tersebut sebenarnya tambahan diinginkan si penjual.
2. Dalam pengasuhan anak, pemukim tua mampu sekadar berkata, “Sudahlah, bukan usah dibereskan mainannya, nanti juga makin berantakan” padahal sebenarnya berharap anaknya akan merasa tertantang dan juga akhirnya merapikan mainan.
3. Dalam hubungan cinta, pasangan dapat berkata, “Kayaknya Anda sibuk deh, pasti tak akan sempat bantu bereskan garasi” dengan harapan pasangannya justru akan melakukannya demi membuktikan perhatian.
Tanda-tanda seseorang sedang menggunakan reverse psychology
Meskipun kadang sulit dikenali, ada beberapa sinyal bahwa seseorang sedang mencoba menggunakan teknik ini:
- Mereka sengaja menyampaikan komentar negatif yang tampak ingin memancing reaksi dari Anda.
- Anda merasa merekan menginginkan sesuatu, tapi bukan mengatakannya secara langsung.
- Mereka terus-menerus mengulangi satu ide atau sikap, hingga memproduksi Anda ingin melakukan hal sebaliknya.
- Mereka akan lebih banyak diuntungkan apabila Anda justru melakukan kebalikan dari apa yang tersebut merekan sarankan.
- Apa yang tersebut mereka katakan tidaklah sesuai dengan preferensi atau perilaku merekan sebelumnya.
Meskipun reverse psychology dapat efektif, penggunaannya yang digunakan tidak ada tepat justru mampu memunculkan dampak negatif, khususnya bagi anak-anak atau seseorang dengan low self-esteem. Jika terasa seperti manipulasi terselubung, strategi ini dapat membuat ketidakpercayaan serta mengacaukan hubungan yang dibangun.
Artikel ini disadur dari Sering dibahas di medsos, apa itu “reverse psychology:?




